Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Pesantren antara Ilmu dan akhlak

Pesantren adalah kelanjutan metode pengajaran dan pembelajaran RasuluLLah kepada ahlussuffah dengan mengedepankan bahasa contoh tidak sekedar teori.

Santri dan Nilai-Nilai Kebangsaan

Sejak masa perjuangan kemerdekaan, pesantren adalah poros penting sebagai basis pejuang. Karenanya santri akan senantiasa menjadi penjaga nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air.

Gudang Mahakarya Keilmuan

Ulama-ulama pesantren di Nusantara sejak dahulu telah mengharumkan nusantara di dunia keilmuan Islam melalui berbagai mahakarya keilmuan yang mereka susun dalam berbagai macam kitab.

Pentingnya Pesantren dan Madrasah Diniyah

Pesantren dan Madrasah Diniyah menempa para santri untuk mampu menyeimbangkan ilmu dan amal demi kepentingan Dunia dan Akhirat

Obyek Ilmu dan Tempat Menggali Ilmu

Ciri khas Pesantren adalah Kemandirian dan Kesederhanaan, bagi santri pesantren setiap yang terlihat adalah obyek ilmu dan setiap tempat adalah tempat meraih ilmu manfaat.

Kamis, 12 Maret 2020

PERSYARATAN PROPOSAL BOSDA MADIN BPPDS 2020


Rabu, 11 Maret 2020

PERSYARATAN PENDIRIAN LEMBAGA KEAGAMAAN ISLAM

Add caption


Senin, 09 Maret 2020

KASI PD. PONTREN BERSAMA TIM BIDANG PONTREN MONITORING UJIAN SEKOLAH




Kota Malang—Senin ( 09/03/2020 ) Tim dari Bidang Pontren Kantor Wilayah Kementerian Agama Propinsi Jawa Timur berkunjung ke Kemenag Kota Malang guna melakukan monitoring pelaksaan Ujian Sekolah ( US ).
Bersama Kasi PD Pontren Kemenag Kota Malang, H. Achmad Shampton, S.HI, tim bergerak bersama menuju 2 sekolah yaitu Pondok Pesantren Darutta'lim Wadda'wah dan PP. Ulum Asy' Sar'iyah. Rombongan langsung di terima Pengurus Pondok Pesantren  dan segenap panitia Ujian.
Secara umum pelaksaan ujian sekolah berjalan dengan lancar, tertib dan kondusif, ucap Kasi Pondok Pesantren bapak H. Abdul Ghofur. Tim dari Kanwil pun merasa puas dengan pelaksanaan ujian sekolah di Kota Malang, sambungnya. 

Rabu, 26 Februari 2020

PEMBINAAN GURU NGAJI DAN GURU SEKOLAH MINGGU

Pada hari Kamis tanggal 27 Pebruari 2020 Pukul 08.00 Wib. bertempat di Aula Kelurahan Polowijen Kecamatan Blimbing Kota Malang, yang dihadiri + 50 Peserta, Panitia, dan Narasumber.
Kelurahan Polowijen mengadakan Kegiatan Pembinaan Guru Ngaji dan Guru Sekolah Minggu yang di hadiri oleh KASI PD Pontren Kemenag Kota Malang ( H. Achmad Shampton, S.HI ) sebagai Pemateri Guru Ngaji di Kelurahan Polowijen. didalam mengisi materi Gus Shampton menjelaskan diantaranya IJOP ( Ijin Oprasional TPQ /LPQ ). Persyaratan




Senin, 24 Februari 2020

SOSIALISASI UJIAN AKHIR BERSAMA (UAB) MADIN SE - KOTA MALANG






Pada hari Senin tanggal 24 Pebruari 2020 Pukul 12.30 Wib. Seksi PD Pontren bekerja sama dengan Forum Komunikasi Diniah Takmiliyah (FKDT) mengadakan kegiatan Sosialisasi Ujian Akhir Bersama (UAB) tingkat Madin Tujuan Menyamakan Persepsi Pembuatan kisi-kisi soal Ujian tingkat madin. Disela-sela kegiatan dari Seksi PD. Pontren sedikit menjelaskan tentang EMIS, Permohonan IJOP, dan Pengisian Aplikasi Ditamanis.


EMIS di jelaskan oleh Ibu Iin Nurjanah, S.Sos
beliau menjelaskan pengisian Emis bagi Madin sangat penting karena sangat berkaitan dengan data yang di minta Kementerian Agama Pusat. EMIS merupakan singkatan dari Education Management Information System. Data emis ini dijadikan pusat pendataan pendidikan Islam satu pintu. Dengan adanya data satu pintu maka akan sangat strategis sebagai penunjang proses perencanaan dan pengambilan kebijakan program Pendidikan Islam pada Kementerian Agama.

Permohonan IJOP dijelaskan oleh  Bapak Ahmad Hasyim
beliau menjelaskan bahwa Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) menerbitkan surat edaran prosedur izin operasional pondok pesantren. Surat edaran bernomor 2050/Dt.V.4/Hm.01/05/2018 tersebut ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi seluruh Indonesia.  
Prosedur Ijin Oprasional ada tiga yaitu :
1. Permohonan Ijin Oprasional Pondok Pesantren
2. Permohonan Ijin Oprasional Madrasah Diniyah
3. Permohonan Ijin Oprasional TPQ / LPQ
Permohonan ijin Oprasional berkas harus terlebih dahulu lengkap sesuai persyaratan yang berlaku, kemudian mengisi Aplikasi Ijop yang ada di website :                            https://ditpdpontren.kemenag.go.id/ijoppesantren  Persyaratan semua ada di website, kemudian di bawa ke Kemenag Kota Malang untuk pengajuan melalui PTSP kemenag Kota malang sehingga akan di terbitkan Piagam Ijin Oprasional.

DITA MANIS ( Digitalisasi Data Madrasah Diniyah Dan Lembaga Keagamaan Islam ) dijelaskan oleh Bapak Wahyu.

Ditamanis adalah data lembaga yang ada di Kota Malang baik Pondok Pesantren, Madrasah Diniyah ( Madin ), dan TPQ / LPQ, data ini sangat berkaitan dengan EMIS dan IJOP Pusat, tanpa ada Emis dan IJOP maka dita manis tidak akan tercipta. di tambahkan oleh Ibu Iin Nurjanah, S.Sos bahwa ditamanis ini di ciptakan sendiri oleh Bapak Kasi PD Pontren Bapak Achmad Shampton, S.HI, beliau menciptakan data tersebut tujuannya mempermudah Kemenag Kab/Ko,  selama ini Emis hanya bisa dilihat dan tidak bisa di olah, oleh karena itu beliau ingin mempermudah pendataan lembaga kota malang melalui DITA MANIS. Jalan kerja dari Dita Manis  yaitu Lembaga mengisi data terlebih dahulu,  data Dita Manis juga terdiri dari Permohonan Ijin Oprasional Pondok, Ijin Oprasional Madin, Ijin Oprasional TPQ / LPQ semua data EMIS dan IJOP dari Pusat di jadikan satu di Dita Manis untuk mempermudah pemantauan lembaga.


Dilanjut oleh FKDT acara utama Kegiatan Sosialisasi Ujian Akhir Bersama (UAB) Madin se Kota Malang oleh Ketua FKDT yaitu Ustad Umar dan Seketaris FKDT Ustad Yasid Al- Busthomi di jelaskan bahwa UAB ini tujuannya menyamakan persepsi untuk membuat kisi-kisi soal yang tujuannya untuk sekolah Madrasah Diniyah di Kota Malang di pertengahan Acara bapak Kasi PD Pontren ( H. Achmad Shampton, S.HI ) Hadir dan mengisi sedikit Pengumuman dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov. Jawa Timur yaitu :
1. Akan ada Madin teladan pemilihannya diserahkan pada FKDT
2. Ada Akses Bantuan yang bisa di akses Melalui Link Sarpras PD Pontren Kemenag pusat.








Kamis, 20 Februari 2020

KOORDINASI PENGELOLAAN ANGGARAN TAHUN 2020

PADA HARI KAMIS TANGGAL 20 PEBRUARI 2020 KEGIATAN RAPAT KOORDINASI PENGELOLAAN ANGGARAN TAHUN 2020

Dalam rangka persiapan pencairan anggaran tahun 2020 Kementerian Agama Kota Malang Mengadakan kegiatan koordinasi Pengelolaan Anggaran Tahun 2020 yang di hadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Malang, Ka Subag TU, Para Kasi, Kepala Madrasah Ibtidaiyah  Negeri dan, satu Operator masing - masing Seksi dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri. Dari Seksi PD. Pontren hadir antara lain :

1. Kasi PD. Pontren : H. Achmad Shampton, S.HI
2. Operator               : Iin Nurjanah, S.Sos

Kegiatan ini diadakan oleh Perencana Kantor Kementerian Agama Kota Malang di hadiri oleh 18 Peserta tempat Mini Hall Kantor kementerian Agama Kota Malang.

Hasil dari kegiatan yaitu :
- IKPA, dalam hal tidak krusial, terkait anggaran bisa jalan tanpa harus nunggu kepala (KPA)
- PPK, bisa ditunggu hari ini atau ekskusi dulu.
- SP2D retur kenapa? harus segera diselesaikan.
- Dalam kinerja harus ada target
- Indikator kinerja pelaksanaan anggaran MI harus didampingi. agar tidak menunda-nunda.



Senin, 08 Juli 2019

Membangun Fondasi Pendidikan ala Ulama Pesantren


Oleh Fathoni Ahmad

Selama tujuah tahun belajar di Makkah, KH Muhammad Hasyim Asy’ari mempunyai kegelisahan tersendiri terkait kondisi beberapa bangsa di sejumlah negara yang sedang mengalami penjajahan, termasuk di Indonesia. Kegelisahaannya itu dituangkan dalam sebuah pertemuan di Multazam bersama para sahabat seangkatannya dari Afrika, Asia, dan juga negara-negara Arab sebelum Kiai Hasyim kembali ke tanah airnya.

Image result for ngaji pada kyai
Pertemuan tersebut terjadi pada suatu hari pada bulan Ramadhan di Masjidil Haram, Makkah. Singkat cerita, dari pertemuan itu lahir kesepakatan di antara mereka untuk mengangkat sumpah di hadapan “Multazam”, dekat pintu ka’bah untuk menyikapi kondisi di negara masing-masing yang dalam keadaan terjajah.

Isi kesepakatan tersebut antara lain ialah sebuah janji yang harus ditepati apabila mereka sudah sampai dan berada di negara masing-masing. Sedangkan janji tersebut berupa tekad untuk berjuang di jalan Allah SWT demi tegaknya agama Islam, berusaha mempersatukan umat Islam dalam kegiatan penyebaran ilmu pengetahuan serta pendalaman ilmu agama Islam.

Jalan yang ditempuh oleh KH Hasyim Asy’ari ialah mendirikan pondok (funduq) yang kini familiar disebut pondok pesantren, tempat para santri belajar ilmu-ilmu agama dan menempa kemandirian dan kekuatan akhlak baik. Implementasi ilmu agama yang diperoleh santri dari sejumlah metode pendidikan yang digunakan oleh kiai langsung terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan dalam bidang ilmu agama, kekuatan karakater dan akhlak, serta penghormatan penuh terhadap guru tidak terlepas dari sosok kiai yang kharismatik. Kiai sebagai pengasuh pondok pesantren tidak hanya memberikan ta’lim dan tarbiyah, tetapi juga tidak ketinggalan untuk selalu mendoakan para murid dan santrinya. Penghormatan santri dan doa kiai bertemu sehingga ikatan batin sangat kuat di antara kiai dan santrinya hingga kini.

KH Hasyim Asy’ari merupakan pemegang sanad ke-14 dari Kitab Shahih Bukhori Muslim. Sanad ilmunya wushul (terhubung) langsung hingga ke Rasulullah. Keilamuan agama ia perdalam di tanah hijaz dan banyak berguru dari ulama kelahiran Nusantara di Makkah seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Yasin Al-Fadani, dan ulama-ulama lainnya.

Sebutan Hadhratussyekh sendiri menggambarkan bahwa ayah KH Wahid Hasyim dan kakek Gus Dur tersebut merupakan mahaguru, mahakiai. Bahkan, Muhammad Asad Syihab (1994) menyebut Kiai Hasyim dengan sebutan al-‘Allamah. Dalam tradisi akademik di Timur Tengah, istilah tersebut diberikan kepada orang yang mempunyai pangkat keulamaan dan keilmuan yang tinggi.

KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ia tidak mendirikan lembaga pendidikan di kawasan yang telah mapan secara moral, tetapi sebaliknya. Sehingga Kiai Hasyim kerap mendapat gangguan dan beberapa kali mendapat percobaan pembunuhan oleh jawara-jawara sekitar. Namun, dengan ilmu kanuragan dan kelembutan hatinya, Kiai Hasyim berhasil membuat para jagoan dan penjahat bayaran tobat. Mereka akhirnya bersedia menimba ilmu di Pesantren Tebuireng.

Selain mempunyai banyak sahabat-sahabat ulama yang tersebar di Jawa dan Madura, Kiai Hasyim Asy’ari sendiri telah banyak menelurkan murid-murid berkarakter kuat. Setelah menimba ilmu kepada Kiai Hasyim, mereka mengabdi dan mendirikan pesantren di kampungnya masing-masing. Murid-muridnya paham betul tentang apa yang pernah dikatakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari, “pulanglah ke kampungmu, mengajarlah di sana minimal ngajar ngaji.”

Selain itu, kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terlepas dari peran dan jasa para ulama, selain para nasionalis dan tentunya seluruh rakyat Indonesia. Namun, sejarah mencatat bahwa pergerakan ulama sebagai panutan masyarakatnya kerap membuat penjajah ketir-ketir karena merasa terancam eksistensinya. Terlebih ketika mereka mendirikan perkumpulan atau organisasi dan pondok pesantren.

Di sini pesantren tidak hanya sebagai tempat menempa ilmu agama, tetapi juga sebagai wadah pergerakan nasional, perlawanan terhadap penjajah, dan tempat menyemai kecintaan terhadap tanah air. Sejarah mencatat, hanya kalangan pesantren yang tidak mudah tunduk begitu saja di tangan penjajah. Dengan perlawanan kulturalnya, Kiai Hasyim dan pesantrennya tidak pernah luput dari spionase Belanda.

Langkah awal, pesantren melakukan perlawanan kultural hingga akhirnya bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan hakiki secara lahir dan batin. Kemerdekaan ini tentu hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi tentu saja peran ulama pesantren sebagai motor, motivator, sekaligus negoisator tidak bisa dielakkan begitu saja. Sebab, di masa Agresi Militer Belanda II, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini mampu menggerakkan rakyat Indonesia untuk melawan dan mengusir penjajahan kembali oleh Belanda yang membonceng tentara Sekutu (Inggris).

Fatwa tersebut menggambarkan bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan kewajiban agama. Hal ini merupakan bagian yang inheren dari pola pendidikan pesantren yang diperkuat oleh para kiai. Santri senantiasa diperkuat dengan kepedulian-kepedulian sosial yang tinggi sehingga melahirkan spirit perjuangan melepaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan.

Kebutuhan akan pentingnya pendidikan untuk menunjang pergerakan nasional juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Pada tahun 1916 ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan. Kiai Wahab Chasbullah menyadari bahwa perjuangan di ranah politik tidak akan maksimalkan, terutama dalam mempersiapkan generasi muda sehingga ia mendirikan Nahdlatul Wathan.

Pada tahun 1916 juga, Nahdlatul Wathan (Pergerakan Cinta Tanah Air) resmi mendapatkan Rechtspersoon (badan hukum) sebagai sebuah lembaga pendidikan untuk menggembleng nasionalisme para pemuda. Nahdlatul Wathan digawangi oleh KH Abdul Kahar sebagai Direktur, KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan), dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah.

Nahdlatul Wathan merupakan upaya Kiai Wahab dan kawan-kawan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan yang kuat di dada para pemuda melalui pendidikan. Berangkat dari misi besar tersebut, Kiai Wahab menciptakan syair Ya Ahlal Wathan yang kini kita kenal dengan Ya Lal Wathan. Syair ini menjadi lagu wajib yang harus didengungkan sebelum memulai pelajaran di kelas, karena saat itu memang sudah diterapkan sistem klasikal dengan kurikulum 100 persen agama.

Sebagai madrasah perintis dalam memperkuat rasa nasionalisme, kurikulum Nahdlatul Wathan tentu menarik untuk dipelajari. Dalam teori pendidikan modern, masyarakat pendidikan tentu mengenal disiplin ilmu Teknologi Pendidikan. Deskripsi kurikulum Nahdlatul Wathan ini sesungguhnya tidak lain untuk mempelajari Teknologi Pendidikan dalam bingkai tradisi pesantren yang digagas Kiai Wahab sebagai salah seorang arsitek pergerakan nasional.

Madrasah Nahdlatul Wathan juga berkembang pesat di setiap cabang NU. Di jawa Barat berpusat di Madrasah Mathla’ul Anwar Menes, Banten. Di Jawa Tengah berpusat di Nahdlatul Wathan di Jomblangan Kidul, Semarang. Sedangkan di Jawa Timur berpusat di Surabaya dengan cabang-cabangnya yang tersebar luas di Jombang, Gresik, banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, dan kota-kota lainnya.

Dalam mengembangkan Madrasah Nahdlatul Wathan dan Tashwirul Afkar, Kiai Wahab berupaya menyebarkan 'virus' cinta tanah air (hubbul wathan) secara luas di tengah masyarakat dan generasi muda dengan membawa misi tradisi keilmuan pesantren. Perjuangan mulia ini tentu harus digerakkan secara terus-menerus melalui setiap lembaga pendidikan di mana pun  sehingga cita-cita luhur pendiri bangsa untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semakin kuat dan tak pernah surut.


Penulis adalah Redaktur NU Online via NU Online