Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Pesantren antara Ilmu dan akhlak

Pesantren adalah kelanjutan metode pengajaran dan pembelajaran RasuluLLah kepada ahlussuffah dengan mengedepankan bahasa contoh tidak sekedar teori.

Santri dan Nilai-Nilai Kebangsaan

Sejak masa perjuangan kemerdekaan, pesantren adalah poros penting sebagai basis pejuang. Karenanya santri akan senantiasa menjadi penjaga nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air.

Gudang Mahakarya Keilmuan

Ulama-ulama pesantren di Nusantara sejak dahulu telah mengharumkan nusantara di dunia keilmuan Islam melalui berbagai mahakarya keilmuan yang mereka susun dalam berbagai macam kitab.

Pentingnya Pesantren dan Madrasah Diniyah

Pesantren dan Madrasah Diniyah menempa para santri untuk mampu menyeimbangkan ilmu dan amal demi kepentingan Dunia dan Akhirat

Obyek Ilmu dan Tempat Menggali Ilmu

Ciri khas Pesantren adalah Kemandirian dan Kesederhanaan, bagi santri pesantren setiap yang terlihat adalah obyek ilmu dan setiap tempat adalah tempat meraih ilmu manfaat.

Senin, 08 Juli 2019

Membangun Fondasi Pendidikan ala Ulama Pesantren


Oleh Fathoni Ahmad

Selama tujuah tahun belajar di Makkah, KH Muhammad Hasyim Asy’ari mempunyai kegelisahan tersendiri terkait kondisi beberapa bangsa di sejumlah negara yang sedang mengalami penjajahan, termasuk di Indonesia. Kegelisahaannya itu dituangkan dalam sebuah pertemuan di Multazam bersama para sahabat seangkatannya dari Afrika, Asia, dan juga negara-negara Arab sebelum Kiai Hasyim kembali ke tanah airnya.

Image result for ngaji pada kyai
Pertemuan tersebut terjadi pada suatu hari pada bulan Ramadhan di Masjidil Haram, Makkah. Singkat cerita, dari pertemuan itu lahir kesepakatan di antara mereka untuk mengangkat sumpah di hadapan “Multazam”, dekat pintu ka’bah untuk menyikapi kondisi di negara masing-masing yang dalam keadaan terjajah.

Isi kesepakatan tersebut antara lain ialah sebuah janji yang harus ditepati apabila mereka sudah sampai dan berada di negara masing-masing. Sedangkan janji tersebut berupa tekad untuk berjuang di jalan Allah SWT demi tegaknya agama Islam, berusaha mempersatukan umat Islam dalam kegiatan penyebaran ilmu pengetahuan serta pendalaman ilmu agama Islam.

Jalan yang ditempuh oleh KH Hasyim Asy’ari ialah mendirikan pondok (funduq) yang kini familiar disebut pondok pesantren, tempat para santri belajar ilmu-ilmu agama dan menempa kemandirian dan kekuatan akhlak baik. Implementasi ilmu agama yang diperoleh santri dari sejumlah metode pendidikan yang digunakan oleh kiai langsung terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Kemampuan dalam bidang ilmu agama, kekuatan karakater dan akhlak, serta penghormatan penuh terhadap guru tidak terlepas dari sosok kiai yang kharismatik. Kiai sebagai pengasuh pondok pesantren tidak hanya memberikan ta’lim dan tarbiyah, tetapi juga tidak ketinggalan untuk selalu mendoakan para murid dan santrinya. Penghormatan santri dan doa kiai bertemu sehingga ikatan batin sangat kuat di antara kiai dan santrinya hingga kini.

KH Hasyim Asy’ari merupakan pemegang sanad ke-14 dari Kitab Shahih Bukhori Muslim. Sanad ilmunya wushul (terhubung) langsung hingga ke Rasulullah. Keilamuan agama ia perdalam di tanah hijaz dan banyak berguru dari ulama kelahiran Nusantara di Makkah seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz Termas, Syekh Yasin Al-Fadani, dan ulama-ulama lainnya.

Sebutan Hadhratussyekh sendiri menggambarkan bahwa ayah KH Wahid Hasyim dan kakek Gus Dur tersebut merupakan mahaguru, mahakiai. Bahkan, Muhammad Asad Syihab (1994) menyebut Kiai Hasyim dengan sebutan al-‘Allamah. Dalam tradisi akademik di Timur Tengah, istilah tersebut diberikan kepada orang yang mempunyai pangkat keulamaan dan keilmuan yang tinggi.

KH Hasyim Asy’ari mendirikan Pondok Pesantren di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Ia tidak mendirikan lembaga pendidikan di kawasan yang telah mapan secara moral, tetapi sebaliknya. Sehingga Kiai Hasyim kerap mendapat gangguan dan beberapa kali mendapat percobaan pembunuhan oleh jawara-jawara sekitar. Namun, dengan ilmu kanuragan dan kelembutan hatinya, Kiai Hasyim berhasil membuat para jagoan dan penjahat bayaran tobat. Mereka akhirnya bersedia menimba ilmu di Pesantren Tebuireng.

Selain mempunyai banyak sahabat-sahabat ulama yang tersebar di Jawa dan Madura, Kiai Hasyim Asy’ari sendiri telah banyak menelurkan murid-murid berkarakter kuat. Setelah menimba ilmu kepada Kiai Hasyim, mereka mengabdi dan mendirikan pesantren di kampungnya masing-masing. Murid-muridnya paham betul tentang apa yang pernah dikatakan oleh Kiai Hasyim Asy’ari, “pulanglah ke kampungmu, mengajarlah di sana minimal ngajar ngaji.”

Selain itu, kemerdekaan bangsa Indonesia tidak terlepas dari peran dan jasa para ulama, selain para nasionalis dan tentunya seluruh rakyat Indonesia. Namun, sejarah mencatat bahwa pergerakan ulama sebagai panutan masyarakatnya kerap membuat penjajah ketir-ketir karena merasa terancam eksistensinya. Terlebih ketika mereka mendirikan perkumpulan atau organisasi dan pondok pesantren.

Di sini pesantren tidak hanya sebagai tempat menempa ilmu agama, tetapi juga sebagai wadah pergerakan nasional, perlawanan terhadap penjajah, dan tempat menyemai kecintaan terhadap tanah air. Sejarah mencatat, hanya kalangan pesantren yang tidak mudah tunduk begitu saja di tangan penjajah. Dengan perlawanan kulturalnya, Kiai Hasyim dan pesantrennya tidak pernah luput dari spionase Belanda.

Langkah awal, pesantren melakukan perlawanan kultural hingga akhirnya bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan hakiki secara lahir dan batin. Kemerdekaan ini tentu hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi tentu saja peran ulama pesantren sebagai motor, motivator, sekaligus negoisator tidak bisa dielakkan begitu saja. Sebab, di masa Agresi Militer Belanda II, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Fatwa ini mampu menggerakkan rakyat Indonesia untuk melawan dan mengusir penjajahan kembali oleh Belanda yang membonceng tentara Sekutu (Inggris).

Fatwa tersebut menggambarkan bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan kewajiban agama. Hal ini merupakan bagian yang inheren dari pola pendidikan pesantren yang diperkuat oleh para kiai. Santri senantiasa diperkuat dengan kepedulian-kepedulian sosial yang tinggi sehingga melahirkan spirit perjuangan melepaskan rakyat Indonesia dari belenggu penjajahan.

Kebutuhan akan pentingnya pendidikan untuk menunjang pergerakan nasional juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Pada tahun 1916 ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan. Kiai Wahab Chasbullah menyadari bahwa perjuangan di ranah politik tidak akan maksimalkan, terutama dalam mempersiapkan generasi muda sehingga ia mendirikan Nahdlatul Wathan.

Pada tahun 1916 juga, Nahdlatul Wathan (Pergerakan Cinta Tanah Air) resmi mendapatkan Rechtspersoon (badan hukum) sebagai sebuah lembaga pendidikan untuk menggembleng nasionalisme para pemuda. Nahdlatul Wathan digawangi oleh KH Abdul Kahar sebagai Direktur, KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan), dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah.

Nahdlatul Wathan merupakan upaya Kiai Wahab dan kawan-kawan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan yang kuat di dada para pemuda melalui pendidikan. Berangkat dari misi besar tersebut, Kiai Wahab menciptakan syair Ya Ahlal Wathan yang kini kita kenal dengan Ya Lal Wathan. Syair ini menjadi lagu wajib yang harus didengungkan sebelum memulai pelajaran di kelas, karena saat itu memang sudah diterapkan sistem klasikal dengan kurikulum 100 persen agama.

Sebagai madrasah perintis dalam memperkuat rasa nasionalisme, kurikulum Nahdlatul Wathan tentu menarik untuk dipelajari. Dalam teori pendidikan modern, masyarakat pendidikan tentu mengenal disiplin ilmu Teknologi Pendidikan. Deskripsi kurikulum Nahdlatul Wathan ini sesungguhnya tidak lain untuk mempelajari Teknologi Pendidikan dalam bingkai tradisi pesantren yang digagas Kiai Wahab sebagai salah seorang arsitek pergerakan nasional.

Madrasah Nahdlatul Wathan juga berkembang pesat di setiap cabang NU. Di jawa Barat berpusat di Madrasah Mathla’ul Anwar Menes, Banten. Di Jawa Tengah berpusat di Nahdlatul Wathan di Jomblangan Kidul, Semarang. Sedangkan di Jawa Timur berpusat di Surabaya dengan cabang-cabangnya yang tersebar luas di Jombang, Gresik, banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, dan kota-kota lainnya.

Dalam mengembangkan Madrasah Nahdlatul Wathan dan Tashwirul Afkar, Kiai Wahab berupaya menyebarkan 'virus' cinta tanah air (hubbul wathan) secara luas di tengah masyarakat dan generasi muda dengan membawa misi tradisi keilmuan pesantren. Perjuangan mulia ini tentu harus digerakkan secara terus-menerus melalui setiap lembaga pendidikan di mana pun  sehingga cita-cita luhur pendiri bangsa untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semakin kuat dan tak pernah surut.


Penulis adalah Redaktur NU Online via NU Online



Senin, 01 Juli 2019

Mengapa Harus Mondok?


Hasil gambar untuk santri
Belajar agama islam merupakan sesuatu yang sangat esensial bagi setiap muslim bagaimana cara sholat yang benar, membaca alqur'an dan yang lainnya, karna kalau tidak bagaimana mungkin seorang muslim bisa beribadah dengan benar kalo tidak ada yang mengajarinya. Maka setiap orang tua mempunyai tugas penting untuk mendidik dan mengajari putra-putrinya mulai dari usia dini. Terkadang orang tua yang terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang memang menjadi tugasnya sebagai bapak. Ataupun ibu yang merasa kewalahan dengan putara-putrinya yang banyak. Tugas rumah tangga yang dilakukannya mencuci, menyiapkan makanan keluarga, sehingga merasa tidak mempunyai waktu untuk mengajari anaknya. Meskipun demikian orang tua tidak bisa lari dari tanggung jawab untuk mengawasi pendidikan anak, mereka harus menentukan di mana anak-anaknya akan belajar islam. Maka pondok pesantren-lah yang siap mengemban tugas dan amanat untuk mendidik dan mengajarkan ilmu-ilmu agama.

Imam ibnu sirrin pernah berkata : إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaklah kalian melihat dari siapa kalian mengambil agama kalian.” (Muqaddimah Shahiih Muslim)
kita harus mengambil ilmu agama dari orang yang lurus manhajnya yaitu dari ahlus sunnah wal jama’ah bukan dari sembarang orang apalagi dari ahli bid’ah dholalah (bid'ah yang sesat) Dan orang-orang liberal yang tunduk pada akalnya bukan pada Islam itu dendiri. Beliau juga bercerita 


Sahabatku inilah diantara 7 alasan mengapa anak-anak kita harus mondok :
1. Pesantren adalah lembaga yang mencetak generasi Sholihin dan Sholihat.  Begitu kata beliau KH. Anwar Nur Muasiss AnNur Bululawang. Terbukti kesolihan seseorang pastinya dilandasi dengan ilmu, amal tanpa ilmu adalah batil dan sia-sia.
2. Penerus perjuangan Rasulullah. Bagaimana tidak? Didalam pesantren di ajarkan ilmu yang rahmatan lil alamin, bukan pemboman lil alamin. Ilmu yang mengajarkan tentang welas asih, sholat berjamaah, kerukunan, kebersamaan dan tentunya kesetiakawanan.
3. Terhindar dari lingkungan kurang baik. Betapa indahnya hidup dipesantren jauh dari hal-hal yang kurang baik. Disini dilarang membawa alat-alat elektronik semisal hp, laptope, radio atau bacaan-bacan yang tidak mendidik seperti koran, novel dan komik.

Dimana-mana dimasyarakat sudah pada terjangkit :
1. Penyalah gunaan narkoba.
Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja makin menggila. Penelitian yang pernah dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan bahwa 50 – 60 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI adalah sebanyak 3,8 sampai 4,2 juta. Di antara jumlah itu, 48% di antaranya adalah pecandu dan sisanya sekadar coba-coba dan pemakai. Demikian seperti disampaikan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) BNN, Kombes Pol Sumirat Dwiyanto seperti dihubungi detikHealth, Rabu (6/6/2012).

2. Mudahnya mengakses media porno.
Zoy Amirin, pakar psikologi seksual dari Universitas Indonesia, mengutip Sexual Behavior Survey 2011, menunjukkan 64 persen anak muda di kota-kota besar Indonesia ‘belajar’ seks melalui film porno atau DVD bajakan. Akibatnya, 39 persen responden ABG usia 15-19 tahun sudah pernah berhubungan seksual, sisanya 61 persen berusia 20-25 tahun. Survei yang didukung pabrik kondom Fiesta itu mewawancari 663 responden berusia 15-25 tahun tentang perilaku seksnya di Jabodetabek, Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Bali pada bulan Mei 2011.

3. Sex Bebas.
Gerakan moral Jangan Bugil di Depan Kamera (JBDK) mencatat adanya peningkatan secara signifikan peredaran video porno yang dibuat oleh anak-anak dan remaja di Indonesia. Jika pada tahun 2007 tercatat ada 500 jenis video porno asli produksi dalam negeri, maka pada pertengahan 2010 jumlah tersebut melonjak menjadi 800 jenis. Fakta paling memprihatinkan dari fenomena di atas adalah kenyataan bahwa sekitar 90 persen dari video tersebut, pemerannya berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Sesuai dengan data penelitan yang dilakukan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. (Okezone.com, 28/3/2012).

4. Aborsi.
Gaya hidup seks bebas berakibat pada kehamilan tidak dikehendaki yang sering dialami remaja putri. Karena takut akan sanksi sosial dari lingkungan keluarga, sekolah, atau masyarakat sekitar, banyak pelajar hamil yang ambil jalan pintas: menggugurkan kandungannya. Base line survey yang dilakukan oleh BKKBN LDFE UI (2000), di Indonesia terjadi 2,4 juta kasus aborsi pertahun dan sekitar 21% (700-800 ribu) dilakukan oleh remaja.Data yang sama juga disampaikan Komisi Nasional Perlindungan Anak tahun 2008. Dari 4.726 responden siswa SMP dan SMA di 17 kota besar, sebanyak 62,7 persen remaja SMP sudah tidak perawan, dan 21,2 persen remaja mengaku pernah aborsi (Kompas.com, 14/03/12).

5. Pelacuran via Internet.
Sebuah penelitian mengungkap fakta bahwa jumlah anak dan remaja yang terjebak di dunia prostitusi di Indonesia semakin meningkat dalam empat tahun terakhir ini, terutama sejak krisis moneter terjadi. Setiap tahun sejak terjadinya krismon, sekitar 150.000 anak di bawah usia 18 tahun menjadi pekerja seks. Menurut seorang ahli, setengah dari pekerja seks di Indonesia berusia di bawah 18 tahun, sedangkan 50.000 di antaranya belum mencapai usia 16 tahun 

6. Tawuran.
Kejahatan remaja yang satu ini tengah naik daun pasca tawuran pelajar SMAN 70 dengan SMAN 6 yang menewaskan Alawi, siswa kelas X SMA 6. Tawuran pelajar seolah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perilaku pelajar. Meski sudah banyak jatuh korban, ‘perang kolosal’ ala pelajar terus terjadi. Data dari Komnas Anak, jumlah tawuran pelajar sudah memperlihatkan kenaikan pada enam bulan pertama tahun 2012. Hingga bulan Juni, sudah terjadi 139 tawuran kasus tawuran di wilayah Jakarta. Sebanyak 12 kasus menyebabkan kematian. Pada 2011, ada 339 kasus tawuran menyebabkan 82 anak meninggal dunia 

4. Menjadi lebih mandiri. 
Dipesantren semua aktifitas dilakukan dengan mandiri semisal mencuci sendiri, makan harus antri, mandi biasanya juga antri. Maka dengan bermacam-macam aktifitas yang dilakukan seperti itu, akan menjadikan anak-anak menjadi lebih mandiri.

5. Full 24 jam dalam pendidikan islami yg teratur, terarah & terkontrol dg tujuan sgt jelas. 
Pendidikan dipesantren beda dengan pendidikan selainnya diluar pesantren. Adakah lembaga pendidikan yang mengatur full 24 jam anak didiknya dengan pengawasan yang baik, selain dari lembaga pesantren? Tidak ada. Kalau memang ada yang seperti itu, tidak akan sebaik pesantren yang mendidik santri-santrinya.

6. InsyaAllah akan membahagiakan orang tua di dunia apalagi di akhirat. Santri yang lebih diprioritaskan adalah akhlak. Sebagaimana perkataan orang-orang kuno terdahulu "pinter iku nomer 27, seng nomer siji iku taat". Maka bisa dipastikan bahwa santri dapat membahagiakan orang tuanya. Berkata kepada mereka dengan bahasa yang halus, sebab itu salah satu nasehat Guru kepadanya. Diakhirat orang tua juga akan bahagia, sebab ia akan terus mendoakan kedua orang tuanya walaupun orang tua telah tiada. Dan doa anak yang sholeh terhadap orang tuanya yang meninggal dunia menjadi alamat bahwa tidak akan putus amal ibadah mereka, sebagaimana Sabda Rasul SAW. 
إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلّا من ثلاث ... إلخ ... أو ولدٍ صالحٍ يدعو له

7. Penerang kubur bagi orang tuanya bahkan di akhirat dipasangkan mahkota terindah bagi orang tuanya.
Rasulullah bersabda, "Barang siapa membaca Alqur’an, mempelajari, dan mengamalkannya maka kedua orang tuanya pada hari qiamat akan dipakaikan mahkota dari nur yg sinar terangnya laksana sinar terang matahari.

Kedua orang tuanya juga dipakaikan dua baju hias kebesaran yg tidak dapat dinilai dg dunia. Keduanya lalu berkata, "sebab apakah ini dipakaikan kpd kami?" Maka dikatakan, "sebab anakmu telah mengambil (belajar) Alqur’an darimu". (HR Al Hakim dari Buraidah & Sahih Muslim).

As-Syeikh Abdul Wahhab Asy-Sya'roni berkata : 
من لا شيخَ له فشيخُه شيطانٌ
"Barang siapa yang tidak memiliki Syekh (Guru), Maka Gurunya adalah syetan". 
perkataan ini di jadikan sebagai alasan utama bahwa belajar islam tidak dibenarkan cuman belajar dari buku-buku, google, dan yang lainnya apalagi yang masih awam terhadap agama.Wallahu A'lam

Beberapa pesantren yang menyelenggarakan pendidikan formal di Kota Malang adalah:
a. PP Sabilurrosyad Gasek Malang
b. PP Bahrul Maghfiroh Malang
c. PP Nurul Muttaqien al Barokah Tlogowaru Malang
d. PP Hidayatul Mubtadiin Tasikmadu Malang
e. PP Nurul Ulum Kacuk Malang
f. PP Al Hayatul Islamiyah Kedungkandang Malang
h. PP Darul Ulum Agung Kedungkandang Malang
i. PP Daruttaklim Waddakwah Bumiayu (pendidikan kesetaraan, ijazah setara dengan formal)
j. MA Plus Ibadurrochman PP Anwarul Huda Karangbesuki
k. PP. Daruttauhid Malang Jl. Sunan Ampel 3 no. 10 sebelah utara UIN
l. PP. Darul Hikmah Al-Hasani MI DARUL HIKMAH

Berikut pesantren yang menerima santri mahasiswa dan siswi di Kota Malang

Pondok Pesantren Luhur

Pengasuh : KH. Ahmad Muhdlor
(Gus Danial / 081333123358/ 0341567520)
Jl. Raya Sumbersari Lowokwaru Malang

Pesma al Hikam
Pengasuh ; alm. KH. Hasyim Muzadi
(Gus Hilman / 081233363741/ 0341495375)
Jl. Cengger Ayam 25 Lowokwaru Malang

Ponpes Miftahul Huda
Pengasuh ; alm. KH. Abdurahman Yahya
(Gus Sulthon / 08113939666)
Jl. Gading pesantren 38 Kasri
Klojen Malang

Ponpes Sabilur Rosyad
Pengasuh : KH. Marzuqi Mustamar
(Ust. Hamim/ 085755598733/ 0341564446)
Jl. Raya Candi 6C Karangbesuki
Sukun Malang

Ponpes Anwarul Huda
Pengasuh : KH. Baidlowi Muslih
(Gus Nurul Yaqin/ 085649974848)
Jl. Raya candi 3 no 454 Karangbesuki
Sukun Malang

Ponpes Salafiyah Nurul Huda
Pengasuh : alm. KH. Masduqi Mahfud
(Gus Shampthon/ 081555600830)
Jl. Kol. Sugiono 3B Mergosono
Klojen Malang

Ponpes Nurul Ulum
Pengasuh : alm KH. Suyuthi Dahlan
(Gus Ali Mustofa/ 081334613999)
Jl. Satsuit Tubun 17 Kacuk Kebonsari
Klojen Malang

Ponpes al Hikmah al Fatimiyah Puteri
Pengasuh : Ibunyai Syafiyah
(Ibunyai Syafiyah / 081334732137)
Jl. Joyosuko no 60A Lowokwaru Malang

Ponpes Darul Hikmah al Hasani putera
Pengasuh : KH. Sofiyullah Hambas
(Dr. Halimi Zuhdi / 085729320568)
Jl. Joyosuko Kalimetro Lowokwaru Malang

Ponpes al Islahiyah Puteri
Pengasuh : Ibunyai Umi Mahmudah
(Ibunyai Umi Mahmudah / 082330035855)
Jl. Galunggung VII/ 2A Malang

Ponpes al Mubarok
Pengasuh : KH. Suyuthi Asyrof
(Gus Mamik / 082245451299/ 0341570782)
Jl. Joyo Mulyo 340 A Merjosari
Lowokwaru Malang

Ponpes Darul Ulum Al Fadloli
Pengasuh : KH. Rofii Mahmud
(Gus Suyuti / 0341582488)
Jl. Joyo Mulyo No.393, Merjosari, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65144

Ponpes Sabilul Muttaqin
Pengasuh : alm KH. Muhajirin
(Gus Jihad / 085649300096)
Jl. Tlogo suryo gg V no. 50 Tlogomas
Lowokwaru Malang

Ponpes Bahrul Maghfiroh
Pengasuh : KH. Lukman Hakim
(Ust. Sulton /085795749728)
Jl. Raya Joyo Agung Atas no. 2, Tlogomas
Lowokwaru Malang

Ponpes Miftahul Ulum
Pengasuh : alm. KH. Qomarudin Arif
(Gus Saifudin Arif/ 081805051414)
Jl. Raya Jetis 55 Mulyoagung
Dau Malang

Ponpes at Taufiq
Pengasuh : alm. KH. Nur Ismail
(Gus Bahrul Ulum/ 081555627911)
Jl. Raya Mulyoagung Dau Malang

Ponpes Darul Falah
Pengasuh : Gus Abdul Qohar
(Gus M. Abdul Qohar/ 085232301333)
Jl. Pronoyudo Areng Areng (barat Dau)

Ponpes Mafatihul Muhtadin
Pengasuh : alm. KH. Sulaiman
(Gus Samsul / 082330666695)
Jl. Masjid Rt. 14 /03 Pendem Mojorejo
Junrejo kota batu

Ponpes Hidayatul Mubtadiin
Pengasuh : alm. KH. Ubaidillah
(Gus Ayik Ubaidillah/ 085101157619)
Jl. Raya Dawuhan Tegalgondo (belakang UMM) Karangploso Malang

Ponpes Manbaul ulum
(Gus Haris / 085852532315)
Jl. Mojosantri Kajang Santren Mojorejo
Junrejo kota Batu

Pondok Tahfidzil Quran Nurul Huda
KH.DR Isyroqunnajah, MA, 081944882276
Jl. Joyo Metro Lowokwaru Malang

#Ayo Mondok Pesantrenku Keren.
Salam Takdzim.
Ahmad Zain Bad.
AnNur II Bululawang Malang


Sumber : http://www.muslimoderat.net/2016/09/7-alasan-kenapa-harus-mondok-di.html#ixzz5sU3I9x7U