Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Jumat, 20 Oktober 2017

Mengapa Yani Membasmi Santri Kyai Mahfudz?

Pejuang Kemerdekaan Yang Terzhalimi (3)
KH. MAHFUDH SOMALANGU KEBUMEN
SURAT RAHASIA LETKOL ACHMAD YANI TENTANG IDEOLOGI-POLITIK KH. MAHFUDH SOMALANGU
Ini surat rahasia Letkol Achmad Yani kepada atasannya, Panglma Divisi Diponegoro, Jawa Tengah, pada 1 Februari 1950 -- kemudian dimuat dalam buku biografi Jend Achmad Yani. Surat ini memberi assessment politik-kemiliteran tentang KH Mahfudh sebelum digelar operasi militer besar-besaran pada Agustus 1950 menumpas AOI. 

Surat ini, didasarkan pada para informan dan intel Yani di sekitar Kebumen, sudah cukup menggambarkan segenap orientasi ideologis-politik tokoh NU, guru tarekat dan komandan AOI ini.
Membahas surat ini bisa jadi satu buku sendiri untuk melihat bahwa inilah sebetulnya ideologi Islam Nusantara, ini pula haluan politik kebangsaan NU untuk NKRI, seperti dipantulkan oleh kiprah heroik almaghfurlah Kiai Mahfudh. Kita simak isi surat Yani itu:

1. Sikap AOI sudah clear soal kebijakan Re-Ra atau Re-Ra (restrukturisasi dan rasionalisasi) tentara. Tidak ada masalah. Tapi mengapa AOI dihabisi? Surat ini menyebut AOI memiliki suplai logistik senjata yang menakutkan (1 banding 3). Bandingkan kasus serupa di Jawa: sejumlah kiai mantan komandan laskar disuruh kembalikan senjata. Banyak kiai tidak mau karena pertimbangan keamanan. Akhirnya ada yang dipenjara seperti KH Dhofir Jember.
Dalam surat Yani itu disebut keberatan Kiai Mahfudh untuk dilucuti senjata dan dipecah-pecah anggota laskarnya: terjaminnya rasa aman bagi warga dari "ancaman Westerling, Darul Islam, dan bahaya merah".

2. AOI dianggap elemen "liar" dalam TNI oleh aparat militer. Karena itu harus dibersihkan. Argumen Yani: ada faksi kecil dalam AOI yang bikin masalah. Elemen kecil ini yang harus dibereskan agar tidak bikin masalah. misalnya ada yang menuduh: elemen kecil itu gabung ke DI/TII.
Catatan:
Tuduhan "DI/TII" bagi para mantan komandan laskar rakyat adalah justifikasi apriori bagi aparat militer untuk membabat elemen-elemen tentara (dari laskar rakyat santri-kiai) yang tidak mau nurut sama atasan di pusat. Kasusnya banyak. Datanya ada. Seperti Kiai Revolusioner KH Abu Syuja'i Tegal, (santri Hadlratusysyekh KH Hasyim Asy'ari), ditangkap bersama anak buahnya, karena tuduhan mematikan seperti ini.

3. Analisis Yani atas sosok-pribadi Kiai Mahfudhh yang disebutnya "Romo Pusat" -- sebutan ini layak dianalisis panjang. Mengapa ada sebutan "Pusat"? Mengapa Yani menyebut beliau "Diktator Kecil", "Ego-Sentris", "semua keinginan Romo Pusat sudah jadi hukum sendiri"? Bandingkan stereotip seperti yang hampir sama diberikan oleh anak-anak kampus modern... stereotip dalam konteks power struggle lalu dibaptis sebagai hal yang ilmiah ke dalam ranah akademik . (Tentu saja semua itu adalah fitnah keji dan stigma buruk yang sengaja disematkan kpd Kiai Mahfudzh Somalangu untuk dijadikan alasan bagi TNI agar bisa menghabisi Kiai Mahfudh Somalangu dan AOI).

4. Bagian 2 surat Yani ini penuh dengan semangat "power struggle" dalam lingkup TNI waktu itu. "Power struggle" antara siapa dan siapa, kelompok yang mana dengan yang mana? Yani tidak mau terus terang dalam surat itu. Tapi kalau kita pakai analisis struktural dan dekonstruksi (tafkik) jelas tergambar di sana pertarungan itu: faksi KNIL vs faksi PETA, faksi tentara pro-Hatta-Nasution (yang setuju hasil KMB) vs pro Sri Sultan Hamengkubuwono (anti KMB, kelanjutan visi "tentara rakyat" Jend. Sudirman), faksi laskar santri vs tentara kader Barat. Surat Yani yang menyebut kedekatan Kiai Mahfudh dengan Sultan Yogya itu (pernah jadi menteri pertahanan yang ikut mengkader anggota laskar dan tentara pro Jend Sudirman) menunjukkan problematik faksionalisasi dalam tubuh tentara itu. Maka Yani diminta oleh atasannya untuk membereskan salah satu faksi terkuat anti Hatta-Nasution, yaitu AOI di Keresidenan Kedu.

5. Surat Yani juga menyebut politik-keagamaan Kiai Mahfudh yang menuntut pesantrennya diberi status "tanah perdikan" -- sebuah simbol kemerdekaan yang dulu dinikmati para komunitas pesantren di Jawa di era Kompeni. Seperti status Pondok Sukorejo Situbondo yang diberikan tentara NICA sebagai tanah "heilige", tanah kramat, yang tidak boleh diganggu (makanya banyak anggota laskar berlindung di pondok Kiai As'ad itu). Tapi rezim Sjahrir hingga Hatta masa itu sudah menghapus status tanah seperti ini. Sehingga mengundang banyak protes di kalangan kiai. Status tanah ini dianggap berbahaya secara ekonomis (bagirezim kapitalis), seperti halnya AOI berbahaya, kalau independen dan nasionalis, bagi rezim militer pro kapitalis global atas nama "profesionalisme".
Kayaknya A Yani tidak paham soal seluk-beluk tanah perdikan atau tanah pamutihan ini.

6. Bagian kesimpulan surat Yani di atas sangat spesifik tentang garis politik kebangsaan Kiai Mahfudhh dan AOI-nya: politiknya mengikutri model Masyumi-nya Hadlratusy Syekh KH Hasyim Asy'ari, strategi militer nasionalnya mengikuti model Laskar Hizbullah-Sablillah pimpinan KH A. Wahab Chasbullah dan KH Masjkur; dan strategi militer operasionalnya sangat menentang gerakan pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) pimpinan SM. Kartosuwirjo.
7. Usulan A. Yani kepada atasannya: kompromi, berunding atau jalan damai. Aksi militer hanya dilakukan untuk faksi kecil AOI yang disebutnya "gerombolan liar".  Tapi mengapa kemudian pada 1 Agustus 1950, enam bulan setelah surat Yani itu, justru yang terjadi sebaliknya: di luar dari usulan Yani di atas.. yakni operasi besar-besaran menghabisi total semua orang AOI ...! Itu berarti power struggle dalam tubuh TNI saat itu sangat keras, hingga satu faksi anti AOI juga bertindak keras ..

Pertanyaan berikut yang harus diangkat: “Mengapa malah Yani mau jadi komandan operasi militer itu? Apa Yani sedang "bermain" untuk mengendarai aksi penumpasan AOI sebagai kartu "political game" ke faksi-faksi dalam tentara? Sehingga bisa tampil sebagai tokoh baru di luar dari faksi lama yang terus bertikai itu?”

Karir cemerlang Jend. Yani -- mengalahkan pamor Jend. A. Haris Nasution, dirangkul Amerika di tahun 1950an-1960an, hingga disebut-sebut calon pengganti Soekarno -- membuktikan sendiri apa isi jawaban pertanyaan kita itu ...
Foto Dafid Fuadi.Foto Dafid Fuadi.Foto Dafid Fuadi.Foto Dafid Fuadi.Foto Dafid Fuadi.

0 komentar:

Posting Komentar