Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Selasa, 03 Oktober 2017

Kemilau Mutiara Guru Besar Al-Qur’an di Makkah Asal Nusantara


~ Syaikh Zainî Bâwiân (1915-2005), Kemilau Mutiara Guru Besar Al-Qur’an di Makkah Asal Nusantara

Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.Dalam kitab “Imtâ’ al-Fudhalâ bi Tarâjim al-Qurrâ” karangan Dr. Ilyâs ibn Ahmad ibn Husain al-Barmâwî (dicetak di Madinah, KSA, oleh Dâr al-Nadwah al-‘Âlamiyyah li al-Thibâ’ah, tanpa tahun), diulas biografi para “muqrî (pelantun al-Qur’an) di Makkah sepanjang sejarah Islam pasca abad ke-8 H. Di antara para “muqrî” Makkah yang tersohor di abad ke-20 M adalah Syaikh Zainî Bâwiân al-Makkî (asal Pulau Bawean).

Disebutkan dalam “Imtâ’ al-Fudhalâ” (vol. II, hal. 127) jika Syaikh Zainî Bâwiân dilahirkan di distrik (hayy) Syâmiyyah di Makkah pada tahun 1334 H (1915 M). Nama lengkapnya adalah Muhammad Zainî ibn ‘Abdullâh ibn Muhammad Arsyad ibn Ma’rûf ibn Ahmad ibn ‘Abd al-Lathîf, al-Bâwiânî al-Makkî.

Ayah beliau, yaitu Syaikh ‘Abdullâh Bâwiân, juga lahir dan besar di Makkah. Sang kakek, yaitu Syaikh Muhammad Arsyad Bâwiân, adalah yang pertama datang dari Pulau Bawean lalu menetap dan bermukim di Makkah. Keluarga besar Syaikh Muhammad Arsyad berasal dari kalangan ulama besar dan terkemuka di pulau Bawean.

Zainî Bâwiân belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman dari ibunya, yang disebut sebagai seorang penghafal al-Qur’an dan pengajar perempuan. Kemudian ia melanjutkan belajarnya di Kuttâb Âsyiah, sebuah pesantren Al-Qur’an untuk anak-anak yang dikelola oleh orang-orang Aceh di Makkah.

Keberadaan Kuttâb Aceh di Makkah ini menarik untuk ditelisik lebih jauh, karena Kuttâb yang dikelola oleh orang-orang Aceh tersebut termasuk salah satu Kuttâb yang cukup besar dan popular di Makkah.

Pada usia 13 tahun, Zainî Bâwiân telah selesai menghafalkan Al-Qur’an di luar kepala dengan sangat tartil dan baik. Ia juga memiliki kelebihan berupa suara yang indah dan tinggi. Karena itu, dalam beberapa acara, Zainî Bawiân kecil sudah sering didaulat untuk menjadi pelantun bacaan Al-Qur’an dan kasidah-kasidah pujian atas Nabi Muhammad.

Kemudian beliau melanjutkan pelajarannya ke Madrasah al-Fakhriyyah, lalu ke Madrasah al-Shaulatiyyah di Makkah. Di antara guru-gurunya adalah Syaikh Hasan Al-‘Arabî ibn At-Tabbani Syaikh Muhammad Mirdâd, Syaikh Husain Mirdâd, Syaikh Muhammad Amîn al-Kutubî, Syaikh Ahmad ibn Hâmid al-Tîjî yang merupakan sentral ilmu Qira’at, Syaikh Muhammad ‘Alî ibn Husain al-Mâlikî al-Makkî, dan lain-lain.

Dari para ulama besr tersebut, Zainî Bâwiân belajar Qira’ah Sab’ah dan ilmu-ilmu keislaman lainnya hingga mendapatkan lisensi (ijâzah) untuk mengajar. Kepada para guru besar itu jugalah, genealogi dan transmisi intelektual (sanad) Zainî Bâwiân tersambung dan tersandar.

Pada tahun 1935 M, Zainî Bâwîan bersama Muhsin ibn ‘Alî al-Falimbânî (Palembang) dan cendikiawan Nusantara di Makkah lainnya mendirikan Madrasah Dâr al-‘Ulûm. Madrasah ini pada gilirannya menjadi institusi keilmuan yang memiliki reputasi tinggi dan jejak cemerlang dalam sejarah pendidikan di Makkah. Zainî Bâwiân pun mengajar di madrasah tersebut, juga di Masjid al-Haram.

Selain di dua tempat tersebut, Zainî Bâwiân juga membuka kelas pengajian di rumahnya di distrik Syâmiyyah di Makkah, yang selalu ramai dipenuhi oleh para pelajar dari pelbagai bangsa.
Zainî Bâwiân lalu didaulat menjadi guru besar Al-Qur’an (syaikh al-qurrâ) sekaligus menjadi pelantun al-Qur’an (muqrî) di sana, bersama para guru besar dan muqrî Al-Qur’an lainnya yang termasyhur pada masanya, seperti Syaikh Zakî Dâghastânî, Syaikh Muhammad al-Kahîlî, Syaikh ‘Abbâs Muqâdamî, Syaikh Muhammad ‘Ubaîd, Syaikh ‘Umar al-Arba’în, disamping beberapa guru besar dan muqrî Makkah asal Nusantara lainnya, seperti Syaikh ‘Abd al-Karîm al-Falambânî (Palembang), Syaikh Sirâj Qârût (Garut), Syaikh Musaddad Qârût (Garut), Syaikh Ahmad Mandûrah (Madura), dan Syaikh Jamîl Âsyî (Aceh).

Di samping itu, Zainî Bâwiân juga dikenal sebagai seorang munsyid (pelantun nasyid) dan mubtahil (pelantun puji-pujian). Ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan salah satu gurunya, yaitu Syaikh Muhammad Amîn Kutubî yang terhitung sebagai salah satu ulama besar Makkah di masanya. Syaikh Kutubî banyak menulis kasidah tentang puji-pujian atas Nabi Muhammad. Setiap kali selesai mengarang kasidah, Syaikh Kutubî akan meminta Syaikh Zainî Bâwiân untuk melantunkan dan menembangkannya pertama kali.

Hingga saat ini, beberapa rekaman video dan audio (suara) indah Syaikh Zainî Bâwiân yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan kasidah pujian Nabi Muhammad masih tersimpan di beberapa pusat arsip di Kerajaan Saudi Arabia. Beberapa di antaranya ada yang diunggah di laman youtube.com,archive.org, dan laman-laman digital lainnya.

Zaini Bâwiân juga produktif menulis. Di antara karya-karyanya adalah (1) al-Fawâid al-Zainiyah ‘alâ al-Manzhûmah al-Rahbiyyah, (2) Faidh al-Mannân fî Wâjibât Hâmilî al-Qur’ân, (3) al-‘Ulûm al-Wahbiyyah fî al-Manâzil al-Qurbiyyah, (4) Ghâyah al-Sûl li Man Yurîd al-Wushûl ilâ Barr al-Ushûl, (5) Musyâhadah al-Mahbûb fî Tathhîr al-Qawâlib wa al-Qulûb, dan (6) Ghâyah al-Wadâd fî Mâ li Hâdzâ al-Wujûd min al-Murâd.

Pada hari Kamis bulan Rabî’ al-Awaal 1426 H (2005 M), Zainî Bawiân wafat di Makkah. Jenazah beliau disolatkan di Masjid al-Haram dan diikuti oleh ribuan jamaah. Beliau dikebumikan di pemakaman Ma’lâ di Makkah.

0 komentar:

Posting Komentar