Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Selasa, 03 Oktober 2017

Full Day Mengebiri Madrasah Diniyah

Malang, Kebijakan Menteri Pendidikan dengan melakukan penerapan full day scholl kebijakan delapan jam dan lima hari sekolah ternyata masih berjalan.

Beberapa madrasah diniyah mengeluhkan berkurangnya siswa didik sejak digulirkannya kebijakan ini.

Kebijakan itu sendiri merupakan upaya menjadikan sekolah media membangun karakter anak bangsa yang baik. Namun dari kebijakan itu sendiri terdapat banyak kelemahan yang secara tidak langsung membentuk karakter anak didik yang kurang mengenal lingkungan dan hanya akan bertemu dengan orang-orang terbatas. 

Mungkin madrasah diniyah bisa bersinergi dengan sekolah untuk memberikan pembinaan siswa secara integral. Namun kondisi ini menyebabkan terbatasnya jam bermain siswa, jam bertemu keluarga, kualitas pertemuan dengan orang tua menurun dan tidak mengenal tetangga menciptakan bangunan karakter siswa yang kurang memiliki jiwa empati bahkan memungkinkan membentuk siswa menjadi individualis.

Karakter seperti apa yang diinginkan sebenarnya dari kebijakan ini? Tingkat pertemuan dengan orang lain yang terbatas hanya dengan kawan-kawan sekolah menyebabkan siswa tidak memiliki kesempatan untuk belajar memahami berbagai macam karakter orang yang heterogen. Berbeda selama siswa masih memungkinkan sekolah diniyah, dia akan mempelajari gaya berfikir kawannya di sekolah dengan pendidikan umumnya, dan gaya kawan-kawannya di Madrasah dengan background agamanya. Semakin banyak pertemuan dengan kelompok heterogen seharusnya akan membentuk karakter pemahaman kebhinekaan yang ada di Indonesia.

Pemerintah sendiri berupaya meningkatkan mutu Madrasah, mulai dengan menawarkan kurikulum berjenjang yang lebih teratur hingga memberikan bantuan operasional dan pembinaan asatidzahnya. sungguh disayangkan bila upaya baik ini kemudian dikebiri dengan kebijakan lain  yang tidak selaras.


0 komentar:

Posting Komentar