Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Pesantren antara Ilmu dan akhlak

Pesantren adalah kelanjutan metode pengajaran dan pembelajaran RasuluLLah kepada ahlussuffah dengan mengedepankan bahasa contoh tidak sekedar teori.

Santri dan Nilai-Nilai Kebangsaan

Sejak masa perjuangan kemerdekaan, pesantren adalah poros penting sebagai basis pejuang. Karenanya santri akan senantiasa menjadi penjaga nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air.

Gudang Mahakarya Keilmuan

Ulama-ulama pesantren di Nusantara sejak dahulu telah mengharumkan nusantara di dunia keilmuan Islam melalui berbagai mahakarya keilmuan yang mereka susun dalam berbagai macam kitab.

Pentingnya Pesantren dan Madrasah Diniyah

Pesantren dan Madrasah Diniyah menempa para santri untuk mampu menyeimbangkan ilmu dan amal demi kepentingan Dunia dan Akhirat

Obyek Ilmu dan Tempat Menggali Ilmu

Ciri khas Pesantren adalah Kemandirian dan Kesederhanaan, bagi santri pesantren setiap yang terlihat adalah obyek ilmu dan setiap tempat adalah tempat meraih ilmu manfaat.

Jumat, 20 Oktober 2017

Mengapa Yani Membasmi Santri Kyai Mahfudz?

Pejuang Kemerdekaan Yang Terzhalimi (3)
KH. MAHFUDH SOMALANGU KEBUMEN
SURAT RAHASIA LETKOL ACHMAD YANI TENTANG IDEOLOGI-POLITIK KH. MAHFUDH SOMALANGU
Ini surat rahasia Letkol Achmad Yani kepada atasannya, Panglma Divisi Diponegoro, Jawa Tengah, pada 1 Februari 1950 -- kemudian dimuat dalam buku biografi Jend Achmad Yani. Surat ini memberi assessment politik-kemiliteran tentang KH Mahfudh sebelum digelar operasi militer besar-besaran pada Agustus 1950 menumpas AOI. 

Surat ini, didasarkan pada para informan dan intel Yani di sekitar Kebumen, sudah cukup menggambarkan segenap orientasi ideologis-politik tokoh NU, guru tarekat dan komandan AOI ini.
Membahas surat ini bisa jadi satu buku sendiri untuk melihat bahwa inilah sebetulnya ideologi Islam Nusantara, ini pula haluan politik kebangsaan NU untuk NKRI, seperti dipantulkan oleh kiprah heroik almaghfurlah Kiai Mahfudh. Kita simak isi surat Yani itu:

1. Sikap AOI sudah clear soal kebijakan Re-Ra atau Re-Ra (restrukturisasi dan rasionalisasi) tentara. Tidak ada masalah. Tapi mengapa AOI dihabisi? Surat ini menyebut AOI memiliki suplai logistik senjata yang menakutkan (1 banding 3). Bandingkan kasus serupa di Jawa: sejumlah kiai mantan komandan laskar disuruh kembalikan senjata. Banyak kiai tidak mau karena pertimbangan keamanan. Akhirnya ada yang dipenjara seperti KH Dhofir Jember.
Dalam surat Yani itu disebut keberatan Kiai Mahfudh untuk dilucuti senjata dan dipecah-pecah anggota laskarnya: terjaminnya rasa aman bagi warga dari "ancaman Westerling, Darul Islam, dan bahaya merah".

2. AOI dianggap elemen "liar" dalam TNI oleh aparat militer. Karena itu harus dibersihkan. Argumen Yani: ada faksi kecil dalam AOI yang bikin masalah. Elemen kecil ini yang harus dibereskan agar tidak bikin masalah. misalnya ada yang menuduh: elemen kecil itu gabung ke DI/TII.
Catatan:
Tuduhan "DI/TII" bagi para mantan komandan laskar rakyat adalah justifikasi apriori bagi aparat militer untuk membabat elemen-elemen tentara (dari laskar rakyat santri-kiai) yang tidak mau nurut sama atasan di pusat. Kasusnya banyak. Datanya ada. Seperti Kiai Revolusioner KH Abu Syuja'i Tegal, (santri Hadlratusysyekh KH Hasyim Asy'ari), ditangkap bersama anak buahnya, karena tuduhan mematikan seperti ini.

3. Analisis Yani atas sosok-pribadi Kiai Mahfudhh yang disebutnya "Romo Pusat" -- sebutan ini layak dianalisis panjang. Mengapa ada sebutan "Pusat"? Mengapa Yani menyebut beliau "Diktator Kecil", "Ego-Sentris", "semua keinginan Romo Pusat sudah jadi hukum sendiri"? Bandingkan stereotip seperti yang hampir sama diberikan oleh anak-anak kampus modern... stereotip dalam konteks power struggle lalu dibaptis sebagai hal yang ilmiah ke dalam ranah akademik . (Tentu saja semua itu adalah fitnah keji dan stigma buruk yang sengaja disematkan kpd Kiai Mahfudzh Somalangu untuk dijadikan alasan bagi TNI agar bisa menghabisi Kiai Mahfudh Somalangu dan AOI).

4. Bagian 2 surat Yani ini penuh dengan semangat "power struggle" dalam lingkup TNI waktu itu. "Power struggle" antara siapa dan siapa, kelompok yang mana dengan yang mana? Yani tidak mau terus terang dalam surat itu. Tapi kalau kita pakai analisis struktural dan dekonstruksi (tafkik) jelas tergambar di sana pertarungan itu: faksi KNIL vs faksi PETA, faksi tentara pro-Hatta-Nasution (yang setuju hasil KMB) vs pro Sri Sultan Hamengkubuwono (anti KMB, kelanjutan visi "tentara rakyat" Jend. Sudirman), faksi laskar santri vs tentara kader Barat. Surat Yani yang menyebut kedekatan Kiai Mahfudh dengan Sultan Yogya itu (pernah jadi menteri pertahanan yang ikut mengkader anggota laskar dan tentara pro Jend Sudirman) menunjukkan problematik faksionalisasi dalam tubuh tentara itu. Maka Yani diminta oleh atasannya untuk membereskan salah satu faksi terkuat anti Hatta-Nasution, yaitu AOI di Keresidenan Kedu.

5. Surat Yani juga menyebut politik-keagamaan Kiai Mahfudh yang menuntut pesantrennya diberi status "tanah perdikan" -- sebuah simbol kemerdekaan yang dulu dinikmati para komunitas pesantren di Jawa di era Kompeni. Seperti status Pondok Sukorejo Situbondo yang diberikan tentara NICA sebagai tanah "heilige", tanah kramat, yang tidak boleh diganggu (makanya banyak anggota laskar berlindung di pondok Kiai As'ad itu). Tapi rezim Sjahrir hingga Hatta masa itu sudah menghapus status tanah seperti ini. Sehingga mengundang banyak protes di kalangan kiai. Status tanah ini dianggap berbahaya secara ekonomis (bagirezim kapitalis), seperti halnya AOI berbahaya, kalau independen dan nasionalis, bagi rezim militer pro kapitalis global atas nama "profesionalisme".
Kayaknya A Yani tidak paham soal seluk-beluk tanah perdikan atau tanah pamutihan ini.

6. Bagian kesimpulan surat Yani di atas sangat spesifik tentang garis politik kebangsaan Kiai Mahfudhh dan AOI-nya: politiknya mengikutri model Masyumi-nya Hadlratusy Syekh KH Hasyim Asy'ari, strategi militer nasionalnya mengikuti model Laskar Hizbullah-Sablillah pimpinan KH A. Wahab Chasbullah dan KH Masjkur; dan strategi militer operasionalnya sangat menentang gerakan pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) pimpinan SM. Kartosuwirjo.
7. Usulan A. Yani kepada atasannya: kompromi, berunding atau jalan damai. Aksi militer hanya dilakukan untuk faksi kecil AOI yang disebutnya "gerombolan liar".  Tapi mengapa kemudian pada 1 Agustus 1950, enam bulan setelah surat Yani itu, justru yang terjadi sebaliknya: di luar dari usulan Yani di atas.. yakni operasi besar-besaran menghabisi total semua orang AOI ...! Itu berarti power struggle dalam tubuh TNI saat itu sangat keras, hingga satu faksi anti AOI juga bertindak keras ..

Pertanyaan berikut yang harus diangkat: “Mengapa malah Yani mau jadi komandan operasi militer itu? Apa Yani sedang "bermain" untuk mengendarai aksi penumpasan AOI sebagai kartu "political game" ke faksi-faksi dalam tentara? Sehingga bisa tampil sebagai tokoh baru di luar dari faksi lama yang terus bertikai itu?”

Karir cemerlang Jend. Yani -- mengalahkan pamor Jend. A. Haris Nasution, dirangkul Amerika di tahun 1950an-1960an, hingga disebut-sebut calon pengganti Soekarno -- membuktikan sendiri apa isi jawaban pertanyaan kita itu ...
Foto Dafid Fuadi.Foto Dafid Fuadi.Foto Dafid Fuadi.Foto Dafid Fuadi.Foto Dafid Fuadi.

Ahmad Yani Membasmi Laskar Santri

Pejuang Kemerdekaan Yang Terzhalimi (2)
KIAI MAHFUDH SOMALANGU KEBUMEN
Ini silsilah al Maghfurlah Kiai Mahfudh Somalangu, Komandan Laskar AOI (Angkatan Oemat Islam) yang ditakuti tentara KNIL Belanda. Usai perjanjian KMB yang diteken Moh. Hatta Desember 1949, tentara KNIL digabung ke TNI kita yang kebanyakan kader PETA dan laskar rakyat.

Kiai Mahfudh protes masuknya KNIL ke TNI. Menuntut sisa sisa laskar rakyat diintegrasikan ke TNI, bukan malah memasukkan eks tentara Belanda ke tentara nasional kita. Tapi ya itulah maunya Hatta dengan kolaborasi beberapa agen Kompeni dan pihak pro pemerintahan bersih Hatta, katanya.

Pas Eks KNIL masuk Jawa Tengah dengan segenap peralatan tempur mereka yang canggih, target pertama mereka adalah balas dendam atas Kiai Mahfudh dan AOI-nya di tahun 1950. Pintarnya strategi Hatta dan KNIL, yang dipakai untuk menggebuk AOI adalah putra Kebumen sendiri yaitu Achmad Yani, kader PETA dan teman seperjuangan Kiai Mahfudh sendiri dalam revolusi kemerdekaan.

Tulisan setelah ini akan bahas laporan surat rahasia A. Yani ke atasannya tgl 1 Februari 1950 tentang sosok Kiai Mahfudh dan kiprahnya sebagai tokoh NU, visinya ttg NKRI, anti Darul Islam Kertosuwiryo dan jasanya selama perjuangan kemerdekaan. Apa boleh buat, pada 1 Agustus 1950 A. Yani sendiri pimpin operasi pembasmian AOI. Anggota pasukannya eks tentara KNIL ...!

Sejak itu hampir semua tokoh NU membenci A. Yani sampai 1965. Dan A. Yani juga punya agenda membersihkan orang-orang NU dari pemerintahan jika memegang kekuasaan.
SILSILAH KEPENGASUHAN PONDOK PESANTREN AL-KAHFI SOMALANGU, Sumberadi, Kebumen, Jawa Tengah, Indonesia.

1. Sayid As_Syekh Muhammad 'Ishom Al Hasani/Sayid As_Syekh Abdul Kahfi Awwal Al Hasani (1424-1609) Makam di Lemah Lanang, Kebumen.
2. Sayid As_Syekh Muhtarom Al Hasani(1473-1677) Makam di Gabudan, Solo.
3. Sayid As_Syekh Jawahir Al Hasani (1504-1684) Makam di Kudus.
4. Sayid As_Syekh Muhammad Yusuf Al Jawahiri Al Hasani As_Sulasi, Makam di Kudus.
5. Sayid As_Syekh Hasan Al Indis/ Sayid As_Syekh Hayatul Hukmi Al Hasani.
6. Sayid As_Syekh Tajul 'Arifin Abdul Karim Al Jawahiri Al Hasani, Makam diGujarat, India.
7. Sayid As_Syekh Fathurrohman Al Jawahiri Al Hasani, Makam di Somalia.
8. Sayid As_Syekh Misbahus Siraj Al Jawahiri Al Hasani, Makam di Sulawesi.
9. Sayid As_Syekh Muhammad Yusuf Al Jawahiri Al Hasani (1728-1817) Makam di Bulus Pesantren, Kebumen.
10. Sayid As_Syekh Zaenal 'Abidin Al Hasani (1473-1677) Makam di Bulus Pesantren, Kebumen.
11. Sayid As_Syekh Muhammad MarwanAl Hasani (1795-1868) Makam di BulusPesantren, Kebumen.
12. Sayid As_Syekh Ibrahim Mahmud AlHasani/Sayid As_Syekh Abdul Kahfi Atsani (1824-1915) Makam di Lemah Lanang, Kebumen.
13. Sayid As_Syekh Abdurrahman Al Hasani (1855-1938) Makam di Jeddah, Saudi Arabia.
14. Sayid As_Syekh Mahfudhz Al Hasani (1901-1950) Makam di Selok, Cilacap.
15. Sayid As_Syekh Chanifuddin Al Hasani (1936 -1983) Makam di Lemah Lanang, Kebumen.
16. Al Ustadz Sayid 'Afifuddin Chanif Al Hasani (Pengasuh Pesantren Al_Kahfi Somalangu Periode Sekarang)

Baca Juga : Mengapa Yani Membasmi Santri Kyai Mahfudz?

Kamis, 19 Oktober 2017

Pejuang Kemerdekaan Yang Terzhalimi



Foto Dafid Fuadi.
oleh Ahmad Baso
KIAI MAHFUDH SOMALANGU KEBUMEN
Ini adalah foto foto penghancuran laskar rakyat KH Mahfudh Somalangu Kebumen di tahun 1950-an. Laskar pengasuh Pesantren Somalangu ini dikenal berjasa bagi NKRI ini selama revolusi kemerdekaan.

Tapi mengapa muncul kebencian di kalangan tentara kader KNIL dan orang puritan kayak Hatta dan importir kiri kayak Amir Sjarifuddin untuk menyingkirkan beliau agar tidak masuk ke dalam jajaran TNI? Hanya gara gara akal-akalan tidak punya ijazah formal kayak sekolah anak ingusan?
Saya menangis melihat foto-foto ini sambil mengenang al Maghfurlah Kiai Mahfudh. 

Saya pertama kali kenal nama beliau dari tulisan Gus Dur di tahun 2006 yang menyebut beliau dan 
soal ijazah itu. Lalu saya baca uraian sok ilmiah Kuntowijoyo dalam buku Paradigma Islam tentang AOI (Angkatan Oemat Islam) pimpinan Kiai Mahfudh. Kesimpulannya bikin saya meradang: Gerakan AOI pantas gagal karena pahamnya NU, ndeso, mistis, khurafat, tradisionalis, bla bla bla bla bla .... [vonis vonis yang biasa kita temukan dalam kampus kampus islami plus modern katanya]
Foto Dafid Fuadi.
Nah pas melihat foto ini: ternyata penghancuran laskar santri Kiai Mahfudh oleh Overste [Letkol] Achmad Yani memang sistematis.. bukan cuma menghancurkan anggota laskarnya hingga habis, tapi juga menghancurkan reputasi dan nama baik Kiai Mahfudhh.. Lihat orang-orang diajak untuk menyaksikan sendiri: “ini lho bukti kelompok teroris itu”... “ini base camp latihan militer mereka”.. “ini pahamnya”... “ini pondoknya”.. “ini ajaran pendukung darul islam mereka” ....bla bla bla... “jadi jangan tanya kalau kami habisi mereka” ....
Foto Dafid Fuadi.Sejarah kita memang perlu ditulis ulang.. karena yang menang dan membumihanguskan nama baik Pondok Somalangu itu dalam kasus itu yang menulis sejarah ... hingga diabsahkan sebagai ilmiah dan obyektif oleh sejarawan model Kuntowijoyo ...
Yang ngaku anak anak santri Kebumen mari tulis kembali sejarah almaghfurlah KH Mahfudh ...
Yang bukan wong Kebumen mari bacakan al-Fatihah 100 X buat Kiai Mahfudh Somalangu dan untuk ratusan santri-santri anggota laskar beliau yang mati syahid bela Aswaja dan NKRI ini ....

Foto Dafid Fuadi.Foto Dafid Fuadi.

Lihat foto Letkol A. Yani dengan mantapnya menghipnotis penduduk akan bahayanya AOI Kiai Mahfudh ... Lihat juga para korban yang disebutnya sebagai korban pemberontakan teroris batalyon yang join sama AOI.. tapi tidak difoto korban ratusan anggota laskar AIO yang mati syahid itu...!!!





Baca Juga : Ahmad Yani Membasmi Laskar Santri

sumber foto: Propinsi Djawa-Tengah
Volume 3 dari Republik Indonesia, Republik Indonesia
Pengarang Indonesia. Departemen Penerangan 
Penerbit Kementerian Penerangan, 195?

Shalawat Badar Karya Kepala Kantor Kementerian Agama


Image result for KH. Ali Mansur Banyuwangi (cucu KH. Muhammad Shiddiq Jember Jawa Timur)

Oleh : Dafid Fuadi (Direktur Aswaja NU Center Kabupaten Kediri Jatim)
SHALAWAT BADAR adalah bait-bait syair yang berisi shalawat dan tawassul kepada Rasulullah SAW dan sahabat Ahli Badar (para sahabat yang ikut Perang Badar) yang dilantunkan dengan lagu yang khas. SHALAWAT BADAR ini disusun oleh KH. Ali Mansur Banyuwangi (cucu KH. Muhammad Shiddiq Jember Jawa Timur) pada tahun 1960 an. KH. Ali Mansur saat itu menjabat Kepala Kantor Departemen Agama Banyuwangi, sekaligus menjadi Ketua PCNU Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur.
Proses tersusunnya SHALAWAT BADAR ini penuh nilai2 spiritual yang hanya diberikan kpd para waliyullah.
Pada suatu malam, KH. Ali Mansur tidak bisa tidur. Hatinya merasa gelisah karena memikirkan situasi politik yang semakin tidak menentu dan sangat merugikan NU. Orang-orang PKI semakin leluasa mendominasi kekuasaan dan berani membunuh para kyai di beberpa tempat. Karena para Kyai NU dianggap sebagai musuh PKI. Sambil merenung, KH. Ali Mansur terus memainkan penanya di atas kertas, menulis syair-syair dalam bahasa Arab. Beliau sudah dikenal mahir menyusun syair berbahasa Arab sejak masih belajar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri Jawa Timur.
Kegelisahan KH. Ali Mansur berbaur dengan rasa heran, karena malam sebelumnya beliau bermimpi didatangi orang2 berjubah putih-hijau. Semakin mengherankan lagi, karena pada saat yang sama istri beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW.
Keesokan harinya mimpi itu ditanyakan pada Habib Hadi Al-Haddar Banyuwangi. Habib Hadi menjawab: “ Itu Ahli Badar, ya Akhy.” Kedua mimpi aneh yang terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong beliau menulis syair, yang kemudian dikenal dengan SHALAWAT BADAR itu.
Keheranan muncul lagi karena keesokan harinya banyak tetangga yang datang ke rumah beliau sambil membawa beras, daging, dan sebagainya, layaknya akan mendatangi orang yang akan punya hajat mantu.  Mereka bercerita, bahwa pagi-pagi buta, pintu rumah mereka didatangi orang berjubah putih yang memberitahukan bahwa di rumah KH. Ali Mansur akan ada kegiatan besar. Mereka diminta membantu. Maka mereka pun membantu sesuai dengan kemampuannya.
“Siapa orang yang berjubah putih  itu?” Pertanyaan itu terus mengiang dalam benak KH. Ali Mansur tanpa jawaban. Malam itu banyak orang bekerja di dapur untuk menyambut kedatangan tamu, yang mereka sendiri tidak tahu siapa, dari mana dan untuk apa.? Menjelang matahari terbit, serombongan habaib dipimpin oleh Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang Jakarta, datang ke rumah KH. Ali Mansur.
“Alhamdulillah………,” ucap KH. Ali Mansur ketika melihat rombongan yang datang adalah para habaib yang sangat dihormatinya.
Setelah berbincang basa-basi, membahas perkembangan PKI dan kondisi politik nasional yang semakin tidak menentu, Habib Ali Al Habsyi menanyakan topik lain yang tidak diduga sebelumnya oleh KH. Ali Mansur: “ Ya Akhy! Mana syair yang ente buat kemarin? Tolong ente bacakan dan lagukan di hadapan kami-kami ini!”
Tentu saja KH. Ali Mansur terkejut, sebab Habib Ali ternyata sudah mengetahui apa yang dikerjakannya semalam. Namun beliau memaklumi, itulah karomah yang diberikan Allah kepada Habib Ali.
Segera saja KH. Ali Mansur yang dikenal mempunyai suara merdu mengambil kertas yang berisi SHALAWAT BADAR hasil gubahannya semalam, lalu melagukannya di hadapan mereka. Para Habaib mendengarkan lantunan SHALAWAT BADAR dengan khusyuk. Tidak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata karena haru. Selesai mendengarkan lantunan SHALAWAT BADAR, Habib Ali Al Habsyi segera bangkit seraya berkata “Ya Akhy….! Mari kita perangi genjer-genjer PKI itu dengan SHALAWAT BADAR…!”.
Setelah Habib Ali Al Habsyi memimpin doa, lalu beliau dan rombongan mohon diri. Sejak itu SHALAWAT BADAR dikenal sebagai shalawat yang mendampingi perjuangan warga NU dalam menghadapi arogansi PKI .
Selang beberapa hari, Habib Ali Al Habsyi mengundang KH. Ali Mansur dan KH. Ahmad Qusyairi Pasuruan (paman KH. Ali Mansur) serta para habaib dan ulama datang ke Kwitang, Jakarta. Di forum istimewa itulah SHALAWAT BADAR untuk pertama kalinya dikumandangkan di depan umum.
Selanjutnya SHALAWAT BADAR selalu dilantunkan di berbagai kegiatan NU, di Masjid, Mushalla, Pesantren, Majelis2 Pengajian dsb dan dikenal masyarakat luas.
Keberkahan SHALAWAT BADAR ini sudah banyak terbukti sebagai wasilah dalam mengatasi berbagai problem umat.

Pejuang Santri Yang Dilupakan

KH Mahfudh Sumolangu, Pejuang Kemerdekaan, Komandan AOI (Angkatan Oemat Islam) Yang Difitnah, Dizhalimi dan Dihancurkan.
Salah satu kiai yang berjasa besar pada masa revolusi kemerdekaan, adalah Kiai Mahfudh Abdurrohman Sumolangu. Kiai ini, berada di barisan kiai militer, yang menggerakkan laskar-laskar santri di negeri ini. Kiai Mahfudh, menggerakkan pasukan Hizbullah-Sabilillah, di kawasan Kedu Selatan. Kemudian, pasukan ini disebut sebagai Angkatan Oemat Islam.
Siapakah sebenarnya Kiai Mahfudh Abdurrahman? Mengapa ia dianggap pemberontak dalam narasi sejarah militer negeri ini?
Kiai Mahfudh al-Hasani merupakan putra dari Syekh as-Sayid Abdurrahman bin Ibrahim al-Hasani. Ia merupakan keturunan dari Syeikh as-Sayid Abdul Kahfi al-Hasani, yang merupakan keturunan ke-10 dari Sayyid Abdul Qodir al-Jilani al-Hasani. Jika dirunut silsilahnya, yakni sebagai berikut: Kiai Mahfudh bin Abdurrahman bin Ibrahim (Syekh Abdul Kahfi ats-Tsani) bin Muhammad bin Zainal Abidin bin Yusuf bin Abdul Hannan bin Zakariya bin Abdul Mannan bin Hasan bin Yusuf bin Jawahir bin Muhtarom bin Syekh Sayyid Muhammad Ishom a-Hasani (Syekh Abdul Kahfi Awwal).
Kiai Mahfudh lahir di kompleks pesantren al-Kahfi pada 27 Rajab 1319/9 November 1901. Ia memiliki tiga saudara, yakni Syekh Sayyid Thoifur al-Hasani dan Syarifah Ghonimah al-Hasani serta 6 saudara seayah lain ibu.
Pada usai 7 tahun, Kiai Mahfudh sudah hafal al-Qur’an. Ia juga menghafal hadist Arbain Nawawi. Ketika usai 16 tahun, Mahfudh remaja mendapat izin ayahandanya untuk mondok di pesantren Tremas Pacitan, yang diasuh Kiai Dimyati. Ketika ngaji di Tremas, Kiai Mahfudh menyusun dua kitab: al-Fawaidus Sharfiyyah (kitab sharaf) dan al-Burhanul Qathi’ (fiqh madzhab Syafi’i), yang diselesaikan pada Ramadhan 1336 H (Juni 1918). Setelah ngaji di Tremas, Kiai Mahfudh kemudian meneruskan belajarnya di pesantren Jamsaren Solo, serta pesantren Darussalam Watucongol, Muntilan, Magelang.
Ayahanda Kiai Mahfudh, yakni Syekh Abdurrahman bin Ibrahim merupakan kiai ‘alim yang menguasai banyak ilmu. Beliau berhaluan Ahlussunnah wal-Jama’ah, mengikuti fiqh madzhab Malikiyyah, dan penganut Tariqah as-Syadziliyyah. Akan tetapi, Syekh Abdurrahman menyarankan putranya untuk menganut fiqh madzhab Syafi’i. Karena, madzhab Syafi’i banyak dianut oleh warga muslim Indonesia, dan cocok dengan kultur orang Indonesia.
Menggerakkan Santri
Kiai Mahfudh termasuk sosok ulama yang inovatif dan menginspirasi parasantri. Selain keilmuan agama dan tasawuf yang mendalam, Kiai Mahfudh juga menggerakkan santri di bidang pertanian dan perekonomian. Hal ini, dimaksudkan agar para santri dapat mandiri di hadapan rezim kolonial pada masa itu. Pada tahun 1940an, Kiai Mahfudh menggerakkan bermacam usaha, di antaranya pengolahan kopra, industri minyak goreng, pemintalan benang, produksi madu, pabrik rokok, perdagangan kayu jati, dan pemilik penggilingan padi. Pada waktu itu, usaha-usaha yang dirintis Kiai Mahfudh menjadikan santri-santri dan penduduk di kawasan Kebumen memperoleh manfaat positif.
Ketika menjelang kemerdekaan, Kiai Mahfudh juga bergerak untuk melawan kolonial. Beliau sering bertukar pikiran dengan Syekh Hasyim Asy’arie melalui surat menyurat. Kiai Mahfudh juga akrab dengan Kiai Wahid Hasyim, putra Syekh Hasyim Asy’arie. Dengan demikian, Kiai Mahfudh merupakan salah satu tokoh kunci yang menggerakkan santri dalam menjemput kemerdekaan. Nasionalisme Kiai Mahfudh menjadi catatan penting bagi pergerakan kaum santri, terutama di kawasan Kedu Selatan, dalam melawan penjajah, baik sebelum proklamasi kemerdekaan, maupun sesudahnya.
Kiai Mahfudh juga aktif berjuang di medan pertempuran dan memiliki strategi jitu dalam mengorganisasi pasukan. Ia membentuk laskar santri, dalam barisan Angkatan Oemat Islam. AOI terbentuk pada 27 Ramadhan 1346 H/ 4 September 1945. Pada waktu itu, tentara nasional sebagai pasukan militer Negara Indonesia belum sepenuhnya solid. Masa awal kemerdekaan, masih dalam transisi kepemimpinan, ekonomi dan konsolidasi pasukan militer. Pasukan-pasukan militer yang terdiri dari berbagai latar belakang ideologi, golongan dan etnis, masih tercerai berai. Pasukan yang dikomando Panglima Soedirman juga masih menata barisan. Hal ini, sebagaimana tercatat dalam thesis Atik Maskanatun Ni’amah (2013), “Biografi Syaikh Mahfudh al-Hasani Somalangu Kebumen (1901-1950)”.
Pemimpin Militer
Menurut Gus Dur, Angkatan Oemat Islam (AOI) muncul akibat kebijakan pimpinan militer (APRIS) pasca pengakuan kedaulatan 27 Desember 1949. Kebijakan ini menghendaki peleburan laskar-laskar perlawanan ke dalam APRIS setelah usainya perang kemerdekaan. Namun, peleburan itu dengan misi bahwa hanya orang-orang yang mendapat pendidikan ‘Sekolah Umum Belanda’ saja yang menduduki jabatan komandan Batalyon. Pada konteks ini, Syekh Mahfudh Abdurrahman berminat menjadi komandan batalyon ini, yang akan dibentuk dan bermarkas di Purworejo. Akan tetapi, karena alasan ijazah dan kebijakan pemerintah yang tidak memberikan ruang negosiasi, maka karier Kiai Mahfudh terhalang. Akhirnya, yang menjadi Komandan Batalyon adalah pemuda bernama Ahmad Yani.
Akar sejatinya adalah kebijakan Re-Ra (restrukturisasi dan rasionalisasi) yang digelorakan Kabinet Hatta pada 1948. Kebijakan ini, atas usulan Wakil Panglima Besar AH Nasution. Melalui program Rera, personil Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan dipangkas menjadi separuh dari seluruh personil, dengan kualifikasi khusus yakni mereka yang memiliki ijazah. Mereka yang mendapat pendidikan militer di zaman Belanda dan Jepang mendapat prioritas, karena memiliki persyaratan administratif. Akan tetapi, kalangan santri tidak mendapatkan tempat dan disingkirkan dari jalur karier militer. Padahal, laskar-laskar santri berperan penting dalam perang kemerdekaan.
Syekh Mahfudh Abdurrahman risau dengan hal ini. Ia mengomando lebih dari 10.000 pasukan dan sekitar 30.000 massa tambahan yang menguatkan barisan laskar. Kiai Mahfudh ingin agar pasukannya dapat diakomodir oleh kebijakan negara, mengingat jasa penting dan kegigihan melawan penjajah pada masa kemerdekaan. Pasukan Angkatan Oemat Islam (AOI) merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah. Mereka memang sebagian besar dari kalangan santri dan petani, yang tidak memiliki akses pendidikan formal. Padahal, ketika pasukan NICA menyerbu berbagai kawasan di Jawa Tengah, pasukan AOI dengan gigih melawan penjajah. Sebagai Ketua PPRK (Panitia Pertahanan Rakyat Kebumen) yang berkedudukan di bawah Bupati Kebumen, Kiai Mahfudh mengerakkan pasukannya di garda depan menghadapi NICA. Pasukan AOI menjaga garis demarkasi Sungai Kemit, Gombong Timur (Kuntowijoyo, 1970).
Ketika menjaga demarkasi barat Yogyakarta—ketika menjadi Ibu Kota RI—Kiai Mahfudh sempat was-was karena demarkasi timur, di kawasan Madiun terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Front Demokrasi Rakyat (FDR) pimpinan Amir Syarifuddin. Tentu saja, peristiwa Madiun pada 1948 menguras energi laskar, tentara dan rakyat. Kiai Mahfudh merasa bahwa NICA akan memanfaatkan situasi ini dengan menjebol demarkasi Sungai Kemit dan menyerbu Yogyakarta, agar RI jatuh ke tangan Belanda. Pada 18 Desember 1948, tentara NICA menggelar kampanye militer Doortot naar Djokdja. Kampanye militer ini berhasil menawan Soekarno-Hatta, sebagai pemimpin Republik Indonesia. Operasi militer NICA ini, membuat pasukan TNI dan laskar-laskar tercerai berai. Kemudian, setelah peristiwa ini, terjadi penandatanganan kesepakatan di Istana Rijswik, pada 27 Desember 1949. Kesepakatan ini, merupakan lanjutan dari Konferensi Meja Bundar, dengan rumusan pendirian Republik Indonesia Serikat (RIS) yang didukung APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) sebagai tentara nasional. Tentu saja, kesepakatan ini membawa masalah tersendiri bagi pasukan-pasukan militer yang telah terkoordinasi pada era sebelumnya.
Pasukan AOI mendapat tawaran dari APRIS untuk bergabung. Kiai Mahfudh menolak bergabung, karena melihat bahwa kebijakan Rera merugikan laskar-laskar dan terutama AOI. Setidaknya, ada empat ancaman pasca kebijakan Rera: (1) ancaman eksistensi organisasi, (2) ancaman kehilangan posisi sosial ekonomi, (3) ancaman kehilangan posisi politis (4) ancaman kehilangan posisi budaya. Kiai Mahfudh sebenarnya sudah tidak memikirkan tentang karier militer atau posisinya sebagai komandan laskar. Akan tetapi, nasib puluhan ribu pasukan dan simpatisan laskar Hizbullah-Sabilillah, dan Pasukan AOI di kawasan Kedu Selatan menjadi keprihatinan Kiai Mahfudh. AOI pada masa itu, memiliki pengaruh besar di Wonosobo, Banjarnegara, Cilacap, Kebumen dan Purworejo. Bahkan, kharisma Kiai Mahfudh melebihi otoritas pejabat Bupati Kebumen pada masa itu, RM Istikno Sosrobusono (Widiyanta, 1999).
Meski pasukan AOI sudah bergabung dengan Batalyon Lemah Lanang, akan tetapi masalah tidak berhenti. Para pasukan AOI yang memiliki prinsip keagamaan kuat, berbeda tradisi dengan pasukan didikan Militarie Academie Hindia Belanda, yang menjadi pasukan APRIS. Akibatnya, terjadi perkelahian antar pasukan, hingga satu pasukan AOI meninggal. Kolonel Sarbini di Magelang, menganggap peristiwa ini sebagai percikan pemberontakan.
Menurut keterangan Kiai Afifuddin (kerabat Kiai Mahfudh), hingga menjelang 1 Agustus 1950, Kiai Mahfudh sama sekali tidak menyiapkan konsep-konsep untuk mendirikan negara tersendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo di Jawa Barat. Kiai Mahfudh hanya ingin memperluas kawasan kepoetihan, semacam kawasan kaum muslim untuk memperluas interaksi komunitas. Akan tetapi, pembicaraan tentang ide Kiai Mahfudh ini juga tidak ada tindak lanjutnya. Pertemuan para pimpinan Batalyon 423 dan 426 (berasal dari laskar Hizbullah-Sabilillah), hanya ditujukan sebagai pertemuan untuk membahas kebijakan Rera dari pemerintah. Maka, dapat dibayangkan, betapa Kiai Mahfudh sangat kaget ketika pesantren Sumolangu diserbu oleh pasukan TNI, pada pagi hari 1 Agustus 1950. Bangunan pesantren dan rumah-rumah penduduk di kawasan Sumolangu, Candiwulan dan Candimulyo serta kawasan sekitarnya menjadi rusak. Masjid kuno yang berusia lebih 400 tahun juga mengalami kerusakan parah. Arsip-arsip dibakar. Sekitar 1000 orang tewas pada hari itu.
Kejadian ini, membawa luka mendalam bagi pengikut-pengikut Kiai Mahfudh yang berhasil meloloskan diri. Mereka kemudian membangkitkan perlawanan dengan pasukan Batalyon Lemah Lanang, yang kemudian bergabung dengan sisa-sisa Batalyon 426 dan 423 MMC (Merabu Merapi Complex) di kawasan Gunung Slamet. Inilah yang kemudian menjadi stigma Kiai Mahfudh dan pengikutnya semakin memburuk di hadapan pemerintah. Buku-buku sejarah yang ditulis setelah peristiwa ini, dalam sudut pandang militer, memandang Kiai Mahfudh dan pasukannya sebagai pemberontak. Padahal, yang sebenarnya terjadi, adalah intrik politik dan kepentingan para elite militer dalam misi Rera, yang ingin menyingkirkan kaum santri dalam peta militer negeri ini.
Kiprah Angkatan Oemat Islam (AOI) sebagai laskar pejuang untuk menegakkan NKRI di kawasan Kedu Selatan perlu ditulis ulang dengan sudut pandang sejarah yang sebenarnya. AOI selama ini dianggap sebagai pemberontak dan memiliki jaringan dengan orang-orang komunis. Tentu saja, hal ini merupakan pandangan yang salah, mengingat kiprah AOI di bawah komando Kiai Mahfudh Abdurrahman sangat gigih membela NKRI. (Munawir Aziz)

 Baca juga :Pejuang Yang Dizalimi
Referensi:
AN Ni’amah, Biografi Syaikh Mahfudh Al-Hasani Somalangu Kebumen (1901 M-1950 M) [1], Thesis Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013.
A Zuhriyah, Angkatan Oemat Islam (Aoi): Studi Historis Gerakan Radikal Di Kebumen 1945-1950 [2], Thesis Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, 2013.
D Widiyanta, Angkatan Oemat Islam 1945-1950: studi tentang Gerakan Sosial di Kebumen, Jakarta: FIB-Universitas Indonesia, 1999.
Kuntowijoyo, Angkatan Oemat Islam 1945-1950: Beberapa Tjatatan Tentang Pergerakan Sosial, Yogyakarta: UGM, 1970.

Selasa, 10 Oktober 2017

Melacak Sanad Keilmuan Walisongo


Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.
 oleh DR. A. Ginanjar Sya'ban



Ini adalah foto inskripsi Masjid Sunan Kudus (al-Aqsha) yang terdapat di kota Kudus, Jawa Tengah. Inskripsi tertulis di atas lempengan batu dengan menggunakan bahasa Arab dan jenis khat “tsulusi”. 

Inskripsi ini memuat informasi tentang sosok Sunan Kudus yang bernama asli Syaikh Ja’far Shadiq dan bergelar “Syaikhul Islam”, juga bergelar “al-Qâdhî”. Nama masjid yang dibangunnya tersebut bernama “Masjid al-Aqsha” dan selesai dibangun pada tanggal 28 Rajab 956 Hijri (bertepatan dengan 22 Agustus 1549 Masehi).

Inskripsi ini sekarang ditempel pada dinding masjid, tepat di atas mihram pengimaman. Dua sarjana Prancis, L. Kalus dan C. Gullot pernah melakukan penelitian terhadap inskripsi ini. Saya pun berhutang kepada hasil alih tulisan dan edisi teks yang dilakukan keduanya terhadap inskripsi tersebut.

Berikut ini adalah hasil edisi teks dan alih tulisan serta terjemahan bahasa Indonesia dari inskripsi di Masjid Sunan Kudus tersebut:

(1) بسم الله الرحمن الرحيم (.) بنا هذا المسجد الأقصى وبلد القدس خليفة هذا الدهر حبر مكمل
(2) يستجزئ غدا في جنة الخلد نزلا وقربا من الرحمن (؟) منزل (.) أنشأ هذا المسجد المبارك المسمى بالأقصى خليفة الله
(3) في الأرض الحاضر في أجلها والعرش شيخ الإسلام والمسلمين زين العلماء والمجتهدين العالم الكامل الفاضل
(4) المخصوص بعناية ربان الخالق القاضي جعفر الصادق (،) ابتغاء لوجه الله وعواد بره من يد الله واتباعا لسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم
(5) وكان التاريخ ثمانية وعشرين من شهر رجب في سنة ست وخمسين وتسع مائة من الهجرة النبوية (.) وصلى الله على سيدنا محمد وآله وأصحابه أجمعين

(1) Bismillâhirrahmânirrahîm. Telah membangun masjid al-Aqsha dan kota Kudus ini, seorang pemimpin zaman ini, yang ilmunya seumpama tinta dan telah sempurna
(2) Dengan berharap meminta ganjaran besok di surga yang kekal, sebagai pahala dan karunia dari Allah Yang Maha Rahman (?). Telah mendirikan masjid yang diberkahi ini yang dinamakan dengan Masjid al-Aqsha, seorang Khalifatullâh
(3) Di bumi pada zaman ini (?), Syaikhul Islam dan umat Muslim, hiasan sekalian ulama dan para mujtahidin, seorang yang alim, yang sempurna, yang memiliki keutamaan
(4) Yang mendapatkan pertolongan Sang Pencipta, al-Qâdhî Ja’far Shadiq. Membangun semata-mata hanya karena Allah (?) dan mengikuti sunnah Rasulullah SAW.
(5) Adapun tanggal (pembangunannya) adalah delapan belas (18) bulan Rajab tahun Sembilan Ratus Lima Puluh Enam (956) Hijri. Semoga Allah melimpahkan do’a keselamatan kepada Nabi kita Muhammad, juga keluarganya dan semua sahabatnya.

Melihat titimangsa pembangunan masjid di atas (956 H/1549 M), dan melihat julukan Sunan Kudus yang bergelar “Syaikh al-Islam” dan “al-Qadhi”, saya jadi memiliki dugaan kuat jika sanad, genealogi intelektual, dan jaringan keilmuan Sunan Kudus bersambung kepada Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî (w. 974 H/ 1566 M), ulama sentral dunia Islam pada zamannya yang juga pengarang kitab “al-Manhaj al-Qawwîm”.

Jika benar tersambung, maka Sunan Kudus juga berjejaring dengan Syaikh Zainuddîn al-Fanânî al-Malîbârî (w. 991 H/ 1582 M), yang berjejuluk “Syaikhul Islam” dan “al-Qadhi” dari negeri Malibar, pesisir India Barat (dekat Gujarat), dan juga pengarang kitab “Fath al-Mu’în”. Syaikh Zainuddîn al-Malibârî adalah murid langsung dari Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî.

Jika jejak sejarah hubungan dan kontak keilmuan antara Syaikh Zainuddîn al-Malibârî dengan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî ada banyak terlacak dalam sumber-sumber sejarah tertulis, maka tidak demikian halnya dengan sejarah hubungan dan kontak keilmuan antara Sunan Kudus dengan Syaikh Ibn Hajar tadi.

Setidaknya, inskripsi yang terdapat di Masjid Sunan Kudus di atas dapat menjadi pengantar terhadap upaya pelacakan jejak sanad, genealogi intelektual, dan jaringan keilmuan Islam Nusantara masa Walisanga dengan Timur Tengah. 

Minggu, 08 Oktober 2017

Pelatihan Baca Kitab Cepat Metode al-Ghayah

Sabtu, 7 Oktober 2017, PD Pontren Kemenag Kota Malang bertempat di AULA Kemenag Kota Malang menghadirkan Kyai Abdurrahman dari Probolinggo untuk memperkenalkan cara cepat baca kitab metode Al Ghayah bagi para Ustadz Madin dan Pesantren sebagai bagian dari upaya pengembangan pembinaan dan menambah wacana cara baca kitab.

Metode ini telah berhasil diuji cobakan di Madrasah Tsanawiyah Negeri Malang 1 dan Madrasah Aliyah Negeri 2 Malang. Acara yang dikemas bersamaan dengan pembinaan peserta Musabaqah Qiroatul Kutub ini diselenggarakan untuk memberi wacana lebih kepada para pengajar dan pendidik madrasah diniyah dan pesantren bagaimana mendidik santri bisa membaca kitab secara cepat.

Dalam kesempatan ini, dihadirkan siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Gondanglegi Malang yang baru dilatih selama 20 hari. Peserta diperkenankan menanyakan cara bacaan atau tarkib maupun nahwu sharaf dari kitab yang dibacakan. 

Acara pembinaan guru madin dan pesantren ini diadakan untuk mencari solusi cepat bagaimana siswa/santri mampu mempelajari khazanah ilmu pesantren yang dikarang oleh para ulama terdahulu. Cara cepat ini penting dilakukan mengingat titik tekan orang tua murid pada masa sekarang ini lebih pada pendidikan umum dan menganggap belajar agama terlalu sulit dan  mengganggu.

Menutup acara ini, Kasi PD Pontren Kemenag Kota Malang berharap tambahan wawasan mengenai cara membaca kitab cepat ini dapat bermanfaat dan menumbuhkan semangat berinovasi para guru dalam mencari metode yang paling mudah dipahami peserta didik. 


Selasa, 03 Oktober 2017

Kemilau Mutiara Guru Besar Al-Qur’an di Makkah Asal Nusantara


~ Syaikh Zainî Bâwiân (1915-2005), Kemilau Mutiara Guru Besar Al-Qur’an di Makkah Asal Nusantara

Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.Dalam kitab “Imtâ’ al-Fudhalâ bi Tarâjim al-Qurrâ” karangan Dr. Ilyâs ibn Ahmad ibn Husain al-Barmâwî (dicetak di Madinah, KSA, oleh Dâr al-Nadwah al-‘Âlamiyyah li al-Thibâ’ah, tanpa tahun), diulas biografi para “muqrî (pelantun al-Qur’an) di Makkah sepanjang sejarah Islam pasca abad ke-8 H. Di antara para “muqrî” Makkah yang tersohor di abad ke-20 M adalah Syaikh Zainî Bâwiân al-Makkî (asal Pulau Bawean).

Disebutkan dalam “Imtâ’ al-Fudhalâ” (vol. II, hal. 127) jika Syaikh Zainî Bâwiân dilahirkan di distrik (hayy) Syâmiyyah di Makkah pada tahun 1334 H (1915 M). Nama lengkapnya adalah Muhammad Zainî ibn ‘Abdullâh ibn Muhammad Arsyad ibn Ma’rûf ibn Ahmad ibn ‘Abd al-Lathîf, al-Bâwiânî al-Makkî.

Ayah beliau, yaitu Syaikh ‘Abdullâh Bâwiân, juga lahir dan besar di Makkah. Sang kakek, yaitu Syaikh Muhammad Arsyad Bâwiân, adalah yang pertama datang dari Pulau Bawean lalu menetap dan bermukim di Makkah. Keluarga besar Syaikh Muhammad Arsyad berasal dari kalangan ulama besar dan terkemuka di pulau Bawean.

Zainî Bâwiân belajar Al-Qur’an dan ilmu-ilmu keislaman dari ibunya, yang disebut sebagai seorang penghafal al-Qur’an dan pengajar perempuan. Kemudian ia melanjutkan belajarnya di Kuttâb Âsyiah, sebuah pesantren Al-Qur’an untuk anak-anak yang dikelola oleh orang-orang Aceh di Makkah.

Keberadaan Kuttâb Aceh di Makkah ini menarik untuk ditelisik lebih jauh, karena Kuttâb yang dikelola oleh orang-orang Aceh tersebut termasuk salah satu Kuttâb yang cukup besar dan popular di Makkah.

Pada usia 13 tahun, Zainî Bâwiân telah selesai menghafalkan Al-Qur’an di luar kepala dengan sangat tartil dan baik. Ia juga memiliki kelebihan berupa suara yang indah dan tinggi. Karena itu, dalam beberapa acara, Zainî Bawiân kecil sudah sering didaulat untuk menjadi pelantun bacaan Al-Qur’an dan kasidah-kasidah pujian atas Nabi Muhammad.

Kemudian beliau melanjutkan pelajarannya ke Madrasah al-Fakhriyyah, lalu ke Madrasah al-Shaulatiyyah di Makkah. Di antara guru-gurunya adalah Syaikh Hasan Al-‘Arabî ibn At-Tabbani Syaikh Muhammad Mirdâd, Syaikh Husain Mirdâd, Syaikh Muhammad Amîn al-Kutubî, Syaikh Ahmad ibn Hâmid al-Tîjî yang merupakan sentral ilmu Qira’at, Syaikh Muhammad ‘Alî ibn Husain al-Mâlikî al-Makkî, dan lain-lain.

Dari para ulama besr tersebut, Zainî Bâwiân belajar Qira’ah Sab’ah dan ilmu-ilmu keislaman lainnya hingga mendapatkan lisensi (ijâzah) untuk mengajar. Kepada para guru besar itu jugalah, genealogi dan transmisi intelektual (sanad) Zainî Bâwiân tersambung dan tersandar.

Pada tahun 1935 M, Zainî Bâwîan bersama Muhsin ibn ‘Alî al-Falimbânî (Palembang) dan cendikiawan Nusantara di Makkah lainnya mendirikan Madrasah Dâr al-‘Ulûm. Madrasah ini pada gilirannya menjadi institusi keilmuan yang memiliki reputasi tinggi dan jejak cemerlang dalam sejarah pendidikan di Makkah. Zainî Bâwiân pun mengajar di madrasah tersebut, juga di Masjid al-Haram.

Selain di dua tempat tersebut, Zainî Bâwiân juga membuka kelas pengajian di rumahnya di distrik Syâmiyyah di Makkah, yang selalu ramai dipenuhi oleh para pelajar dari pelbagai bangsa.
Zainî Bâwiân lalu didaulat menjadi guru besar Al-Qur’an (syaikh al-qurrâ) sekaligus menjadi pelantun al-Qur’an (muqrî) di sana, bersama para guru besar dan muqrî Al-Qur’an lainnya yang termasyhur pada masanya, seperti Syaikh Zakî Dâghastânî, Syaikh Muhammad al-Kahîlî, Syaikh ‘Abbâs Muqâdamî, Syaikh Muhammad ‘Ubaîd, Syaikh ‘Umar al-Arba’în, disamping beberapa guru besar dan muqrî Makkah asal Nusantara lainnya, seperti Syaikh ‘Abd al-Karîm al-Falambânî (Palembang), Syaikh Sirâj Qârût (Garut), Syaikh Musaddad Qârût (Garut), Syaikh Ahmad Mandûrah (Madura), dan Syaikh Jamîl Âsyî (Aceh).

Di samping itu, Zainî Bâwiân juga dikenal sebagai seorang munsyid (pelantun nasyid) dan mubtahil (pelantun puji-pujian). Ia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan salah satu gurunya, yaitu Syaikh Muhammad Amîn Kutubî yang terhitung sebagai salah satu ulama besar Makkah di masanya. Syaikh Kutubî banyak menulis kasidah tentang puji-pujian atas Nabi Muhammad. Setiap kali selesai mengarang kasidah, Syaikh Kutubî akan meminta Syaikh Zainî Bâwiân untuk melantunkan dan menembangkannya pertama kali.

Hingga saat ini, beberapa rekaman video dan audio (suara) indah Syaikh Zainî Bâwiân yang melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan kasidah pujian Nabi Muhammad masih tersimpan di beberapa pusat arsip di Kerajaan Saudi Arabia. Beberapa di antaranya ada yang diunggah di laman youtube.com,archive.org, dan laman-laman digital lainnya.

Zaini Bâwiân juga produktif menulis. Di antara karya-karyanya adalah (1) al-Fawâid al-Zainiyah ‘alâ al-Manzhûmah al-Rahbiyyah, (2) Faidh al-Mannân fî Wâjibât Hâmilî al-Qur’ân, (3) al-‘Ulûm al-Wahbiyyah fî al-Manâzil al-Qurbiyyah, (4) Ghâyah al-Sûl li Man Yurîd al-Wushûl ilâ Barr al-Ushûl, (5) Musyâhadah al-Mahbûb fî Tathhîr al-Qawâlib wa al-Qulûb, dan (6) Ghâyah al-Wadâd fî Mâ li Hâdzâ al-Wujûd min al-Murâd.

Pada hari Kamis bulan Rabî’ al-Awaal 1426 H (2005 M), Zainî Bawiân wafat di Makkah. Jenazah beliau disolatkan di Masjid al-Haram dan diikuti oleh ribuan jamaah. Beliau dikebumikan di pemakaman Ma’lâ di Makkah.

Pelopor Sastra Hijaz Modern Asal Aceh

oleh : Dr. A. Ginanjar Sya'ban
Abdul Wahhâb ibn Ibrâhîm al-Âsyî (1905-1985); Pelopor Sastra Hijaz Modern Asal Aceh

Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.Abdul Wahhâb ibn Ibrâhîm al-Âsyî adalah cendikiawan Makkah asal Aceh yang tercatat sebagai pelopor dunia susastra dan jurnalistik modern di Hijâz, utamanya sejak masa awal Kerajaan Saudi Arabia. 

Nama Abdul Wahhâb Âsyî sangat popular dalam dunia kajian sastra dan jurnalistik modern Saudi Arabia. Namun berbeda dengan di tanah leluhurnya, yaitu Indonesia secara umum dan Aceh secara khusus, nama Abdul Wahhâb Âsyî hampir tidak diketahui dan terasing.

Nama besar Abdul Wahhâb Âsyî bisa dibandingkan dengan Alî Ahmad Bâ-Katsîr, tokoh yang dicatat sebagai pelopor sastra drama Arab modern (râid al-masrahiyyah al-‘arabiyyah), yang merupakan putra Nusantara asal Surabaya dan memiliki karir serta reputasi gemilang di Kairo pada paruh pertama abad ke-20 M.

Abdul Wahhâb lahir pada tahun 1905 (1323 H) di Dâr al-Âsyî (Rumah Aceh) yang terletak di distrik al-Syâmiyyah di Makkah dari orang tua bernama Syaikh Ibrâhîm al-Âsyî. Sang ayah tercatat sebagai salah seorang tetua Aceh yang bermukim dan berkarir di Makkah dan memiliki pengaruh besar.

Pada awal abad ke-14 H (akhir abad ke-19 M), Syaikh Ibrâhîm al-Âsyî mendirikan kuttâb (pesantren al-Qur’an untuk anak-anak) di distrik tersebut, yang terkenal dengan nama Kuttâb Âsyiah. Pada perjalanannya, kuttâb ini terhitung sebagai salah satu kuttâb terkenal di Makkah pada masanya.

Syaikh Ibrâhîm juga mendirikan Dâr al-Âsyî (Rumah Aceh) yang terdiri dari empat buah rumah tingkat (apartemen). Rumah tersebut diperuntukkan bagi keluarga besarnya, selain sebagai rumah penginapan bagi jemaah haji asal Aceh dan wilayah sekitarnya.

Abdul Wahhâb tumbuh besar di lingkungan Dâr al-Âsyî tersebut. Ia belajar al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu keislaman di Kuttâb Âsyîah yang didirikan oleh ayahnya. Di kuttâb itu juga Abdul Wahhab mengkhatamkan al-Qur’an.

Pada usia sepuluh tahun, Abdul Wahhâb melanjutkan belajarnya ke Madrasah al-Falâh yang juga terdapat di Makkah. Lingkungan ilmiah yang ia dapatkan di kuttâb kakeknya, dan juga di madrasah al-Falâh berpengaruh besar pada kecintaan dan minat besarnya atas ilmu pengetahuan. Ia pun banyak belajar di halaqah-halaqah keilmuan yang terdpat di Masjid al-Haram, disamping banyak membaca buku-buku lintas disiplin secara otodidak.

Pada tahun 1341 H (1922 M), ia diangkat menjadi salah satu pengajar di madrasah al-Fakhriyyah di Makkah, selain juga mengajar di almamaternya di madrasah al-Falâh pada tahun 1347 H (1929 M).

Abdul Wahhab kemudian lebih aktif di dunia susastra dan jurnalistik. Bersama Muhammad Shalih Nashîf, ia pun mendirikan surat kabar “Shaut al-Hijâz” yang terbit di Makkah pada tahun 1350 H (1931 M). “Shaut al-Hijâz” tercatat sebagai surat kabar swasta pertama yang terbit dalam sejarah Hijâz modern, yaitu masa awal Kerajaan Saudi Arabia. Abdul Wahhâb Âsyî tercatat sebagai pemimpin redaksi (raîs tahrîr) pertama surat kabar tersebut.

Reputasi Abdul Wahhâb Âsyî sebagai pelopor dunia jurnalistik di Hijâz pun kian meningkat. Ia juga terkenal sebagai salah satu pelopor dunia susastra Hijâz modern. Selain banyak menuliskan pemikirannya, Abdul Wahhâb Âsyî juga banyak menuliskan karya dan kritik sastranya. Ia pun mendirikan al-Nâdî al-Adabî al-Su’ûdî (Persatuan Sastra Arab Saudi).

Di antara beberapa karya intelektualnya adalah; (1) Dîwân Syauq wa Syauq (kumpulan puisi), (2) Fath Makkah (sejarah), dan (3) Hal al-Hurûb Dharûrah min Dharûriyyât al-Basyar (ulasan social-politik). Beberapa puisinya juga terhimpun dalam antologi puisi Hijâz Modern seperti “al-Adab al-Hijâzî”, “al-Mausû’ah al-Adabiyyah”, dan “Wahy al-Shahrâ”.

Dikisahkan oleh anaknya, Ahmad Syauqî ibn Abdul Wahhâb Âsyî, bahwa sang ayah adalah sosok seorang sastrawan dan jurnalis yang dekat dengan ulama. Ia adalah sebaik-baiknya murabbi. Sang ayah adalah sosok yang lembut namun tegas, berwawasan luas, menghormati perbedaan pendapat, dan sangat terbuka dengan pelbagai macam aliran pemikiran.

Abdul Wahhâb Âsyî wafat pada tahun 1985 (1406 H) di Makkah dan dikuburkan di Ma’la. 

Ilmu Ukur Karya Kyai Jombang


~ “Fath al-Qadîr fî ’Ajâib al-Maqâdîr”; Ilmu Ukur dan Timbang (Metrologi) Islam Nusantara Karangan Kiyai Jombang (1921)

Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.Ini adalah kitab “Fath al-Qadîr fî ‘Ajâib al-Maqâdîr” karangan KH. Ma’shum Ali, ulama besar Nusantara dari Jombang, Jawa Timur (w. 1351 H/ 1933 M). Kitab ini membahas kajian ilmu ukur dan timbangan, atau yang juga disebut metrologi dan surveying (the science of measurement). 

Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu beraksara Arab (Jawi), dan kadang diselingi dengan bahasa Jawa. Dalam kolofon, disebutkan jika kitab ini diselesaikan pada tahun 1339 Hijri (1921 Masehi). Kitab ini lalu dicetak oleh Maktabah Salim Nabhan, Surabaya (tanpa tahun). Versi cetakan Nabhan, tebal kitab ini sebanyak 24 halaman.

Dalam ensiklopedi Wikipedia, disebutkan jika metrologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran, kalibrasi dan akurasi di bidang industri, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ilmu ini erat kaitannya dengan satuan ukuran dan timbangan. Dalam tradisi Arab-Islam, bidang ini dikenal dengan terma “ilm al-maqâdîr wa al-maqâyîs wa al-masâhah”, yang erat kaitannya dengan “ilm al-jabr wa al-riyâdhiyyât” (ilmu hitung dan eksakta Islam).

Meski tipis, namun kitab ini secara ringkas merangkum pelbagai macam satuan ukuran dan timbangan dalam dalam enam pasal besar, yaitu (1) pasal tentang “al-Maqâyîs” (neraca hitung), (2) pasal tentang “Maqâdîr al-Khuthûth” (ukuran jarak), (3) pasal tentang “al-Suthûh” (satuan geodesi), (4) pasal tentang “Maqâdîr al-Ajsâm” (satuan ukur jarak dan berat benda), (5) pasal tentang “al-Awzân al-Jâwiyyah” (ukuran dalam tradisi Jawa), dan (6) pasal tentang “al-Awzân al-‘Arabiyyah” (ukuran dalam tradisi Arab).

Satuan ukur dan timbangan yang dikaji dalam kitab ini berasal dari tiga tradisi yang berbeda-beda, yaitu satuan ukuran dan timbangan dalam tradisi Arab-Islam, Barat, dan Jawa. Dalam kitab ini juga disebutkan panduan menyamakan (qiyâs) antar satuan ukuran dan timbangan dalam tiga tradisi yang berbeda itu.

Dalam tradisi Arab-Islam, misalnya, terdapat satuan ukuran “Shâ’”, “Qushbah”, “Qullah”, “Qîrâth”, “Farsakh”, dan lain-lain. Dalam tradisi Barat, terdapat ukuran “gram”, “meter”, “pound”, “mil”, “hektar”, dan lain-lain. Sementara, dalam tradisi Jawa, terdapat satuan ukuran luas seperti “Bahu”, “Kikil”, “Jengkal”, “Lupit”, “Kecrit”, “Idu”, dan lain-lain.

Sosok pengarang kitab ini, yaitu KH. Ma’shum Ali Seblak (Jombang), terhitung sebagai sosok cendikiawan Islam Nusantara yang unik. Meski berasal dari latar belakang kalangan Islam Tradisional, namun beliau menguasai pelbagai macam ilmu pengetahuan eksakta secara mumpuni.

KH. Ma’shum bin Ali dilahirkan di Maskumambang, Gresik, pada tahun 1305 H (1887 M). Beliau adalah cucu dari KH. Abdul Jabbar Maskumambang dari jalur ibu, sekaligus keponakan dari KH. Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang. KH. Ma’shum Ali juga menantu dari Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Selain menulis dalam bidang metrologi dan surveying sebagaimana yang tertuang dalam “Fath al-Qadîr fî ‘Ajâib al-Maqâdîr”, KH. Ma’shum Ali juga menulis dua buah karya dalam bidang astronomi, yaitu “al-Durûs al-Falakiyyah” dan “Badâi’ al-Masâil”. Karya beliau lainnya adalah “al-Amtsilah al-Tashrîfiyyah” dalam bidang morfologi Arab (ilmu shorof), yang sangat populer di kalangan para pengkaji gramatika Arab di Nusantara.

Ajengan Siroj Garut; Syaikh al-Qurrâ Makkah Asal Pasundan

oleh : A. Ginanjar Sya'ban
Dalam deretan nama Masyâyikh al-Qurrâ (Guru Besar Para Ahli Qira’at al-Qur’an) Masjid al-Haram di Makkah pada paruh pertama abad ke-20 M, tersebutlah dua nama ajengan asal Tatar Pasundan, dan dua-duanya dari wilayah Garut, yaitu Ajengan Siroj Garut (Syaikh Sirâj ibn Muhammad ibn Hasan Qârût) dan Ajengan Musaddad Garut (Syaikh Musaddad Qârût).
Nama Syaikh Siroj Garut banyak disinggung dalam sanad ulama-ulama Qira’ah al-Qur’an yang berkarir di Makkah, juga dalam catatan sejarah studi qira’at al-Qur’an dan para guru besarnya di Makkah pada abad ke-20 M. Biografi Syaikh Siroj juga sedikit disinggung dalam laman Makkawi Qiblah al-Dunyâ.
Syaikh Siroj Garut dilahirkan di Makkah pada tahun 1313 H (1895 M) dari keluarga Sunda asal Garut yang bermukim di Makkah. Dalam reportase Snouck Hurgronje (Mekka in the Latter Part of the 19th Century), disebutkan jika orang-orang Sunda adalah salah satu bangsa Nusantara (Jâwî) yang paling banyak bermukim di Makkah di akhir abad ke-19 M.
Ketika berusia 13 tahun (1908 M), Siroj pergi ke kampung leluhurnya di Garut sekaligus belajar di beberapa pesantren di Jawa selama beberapa tahun. Tidak disebutkan di pesantren mana sajakah Siroj menjejakkan kakinya. Namun, merujuk pada catatan sejarah, di awal abad ke-20 M terdapat beberapa pesantren besar di Tatar Pasundan, seperti Pesantren Suka Miskin Bandung, Pesantren Gentur Cianjur, Pesantren Cikudang, Pesantren Cibarusah Bekasi, Pesantren Tanara Banten, Pesantren Sempur Purwakarta, dan lain-lain.
Sementara di Jawa pada masa itu, terdapat juga pesantren-pesantren besar seperti Babakan Cirebon, Buntet Cirebon, Darat Semarang, Lasem Rembang, Siwalan Panji Sidoarjo, Tebu Ireng Jombang, hingga Bangkalan Madura.
Para ulama pengasuh pesantren di atas rata-rata pernah belajar dan bermukim lama di Mekkah, seperti Syaikh Jamil Buntet, Syaikh Soleh Darat Semarang, Syaikh Dahlan Abdullah Tremas, Syaikh Abdul Muhith Sidoarjo, Syaikh Baidhowi Ma’shum Lasem, Syaikh Hasyim Asy’ari Jombang, Syaikh Kholil Bangkalan, dan lain-lain.
Jadi, besar kemungkinan selama berada, belajar, dan bermukim di Nusantara, Siroj belajar di pesantren-pesantren yang memiliki jaringan intelektual Nusantara-Haramain itu. Dan di pesantren-pesatren itulah Siroj belajar berbagai bidang ilmu keagamaan Islam, mulai dari tata bahasa Arab, yurisprudensi (fikih), teologi, tafsir, hadits, dan lain sebagainya.
Setelah beberapa tahun berada di Nusantara, Siroj kemudian kembali ke Mekka dan melanjutkan pengembaraan intelektualnya di sana. Siroj lebih spesifik menekuni bidang Qira’ah al-Qur’an. Di Makkah ia pun belajar pada Masyâyikh al-Qurrâ di zamannya, seperti Syaikh al-Ghamrâwî, Syaikh Ma’mûn al-Bantanî al-Jâwî, Syaikh Ahmad al-Tîjî.
Syaikh Siroj kemudian mendapatkan lisensi (ijâzah) untuk mengajar Ilmu Qira’ah di Masjid al-Haram dan di kediamannya di distrik (hay) al-Qasyâsyiyyah. Beliau juga didaulat untuk menjadi muqrî (pelantun al-Qur’an) yang dilantik resmi oleh Kerajaan Saudi Arabia dan rutin melantunkan al-Qur’an di Masjid al-Haram setiap harinya.
Pada tahun 1369 H (1949 M), ketika Stasiun Radio Kerajaan Saudi Arabia didirikan, Syaikh Siroj pun diangkat menjadi Muqrî al-Qur’an di sana lantunan bacaan al-Qur’annya yang tartil dan merdu pun direkam dan diputar berulang-ulang. Di sana beliau bersama-sama dengan Syaikh ‘Umar Arba’în, Syaikh Muhammad Nûr Abû al-Khair, Syaikh Zakî al-Daghastânî, dan lain-lain. Salah satu rekamannya masih bisa kita simak melalui situs: https://www.youtube.com/watch?v=AgW...
Syaikh Siroj Garut wafat di Makkah pada 26 Rabî al-Awwal tahun 1390 H (1 Juni 1970 M).
Selain Syaikh Siroj Garut, ada beberapa nama ulama asal Tatar Pasundan yang berkarir di Makkah pada awal abad ke-20 M yang disinggung beberapa buku kesejarahan berbahasa Arab.

Melacak Jejak Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka



~ Melacak Jejak Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka, Pengarang Kitab Syarah Taqrîb Berbahasa Sunda yang Juga Murid Syaikh Soleh Darat Semarang (1317 H/ 1900 M)
Saya menemukan kitab tulis tangan (manuskrip/ makhthûth) berjudul “Tarjamah al-Mukhtâr Syarahna Ghâyah al-Ikhtishâr” yang ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab. Kitab tersebut ditulis pada hari Sabtu, 1 Dzulkaedah tahun 1317 Hijri (bertepatan dengan 3 Maret 1900 Masehi). Kitab tersebut sudah didigitalkan.
Yang mengejutkan saya, pengarang karya ini adalah seorang ulama dari kampung halaman saya, yaitu dari Majalengka, yang bernama Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif. Pada halaman sampul kitab, tertulis teks sebagai berikut;
إي كتاب ترجمة المختار شرحنا غاية الاختصار كراغاننا شيخ أبي شجاع بغس مذهب إمامنا الشافعي أنو غومفولاكي كان اي شرح فقير الحقير محمد غزالي بن زين العارف مجالغكا غفر الله لهما
كيغغنا غويتان نرجمهكن نليكا فووي سفت اولنا بولن ذو القعدة تهون 1317
(Ieu kitab “Tarjamah al-Mukhtâr” syarahna “Ghayah al-Ikhtishâr” karangana Syaikh Abî Syujâ’ bangsa madzhab imamuna al-Syâfi’î. Anu ngumpulakeun kana ieu syarah [al-]faqir al-haqir Muhammad Ghazali bin Zainul Arif Majalengka. Ghafarallâhu lahumâ. Kenging ngawitan nerjemahkeuna nalika poe Saptu, Awalna bulan Dzulkaedah tahun 1317 [Hijri]).
Terjemahan teks di atas dalam bahasa Indonesia kurang lebih sebagai berikut: ”Ini adalah kitab ‘Tarjamah al-Mukhtâr’ yang merupakan syarah [penjelasan] atas kitab ‘Ghâyah al-Ikhtishâr’ karangan Syaikh Abî Syujâ’ seorang ulama madzhab Imam Syâfi’î. Yang menghimpun syarah ini adalah seorang hamba yang fakir lagi hina Muhammad Ghazali bin Zainul Arif Majalengka. Semoga Allah mengampuni keduanya. Dimulai menerjemahkan [syarah ini] pada hari Sabtu, awal bukan Dzulkaedah tahun 1317 [Hijri]”.
Saya mendapatkan informasi awal keberadaan naskah kitab ini dari buku “Penelusuran Naskah-Naskah Kuno Keagamaan di Cirebon dan Indramayu” yang ditulis oleh Tim Peneliti Balai Litbang Agama Jakarta dan diterbitkan pada November 2016 lalu (terima kasih ibu Mahmudah Noor atas hadiah buku-bukunya).
Sebagaimana disebutkan dalam buku tersebut, naskah “Tarjamah al-Mukhtâr” karya Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainul Arif Majalengka ini tersimpan sebagai koleksi Keraton Kacirebonan, Cirebon (Jawa Barat).
Naskah ini juga sudah didigitalkan dalam laman projek digitalisasi naskah-nasakah Nusantara yang dilakukan oleh Universitas Leipzig bekerjasama dengan beberapa lembaga penyimpan naskah di Nusantara. Pada versi inventarisasi dan digitalisasi Leizig, naskah ini tersimpan dengan nomor kode Crb/KCR/11/2012. Naskah ini juga telah didigitalisasi oleh British Library, dengan nomor kode EAP211/1/3/1.
Jumlah keseluruhan naskah kitab ini adalah 216 halaman, ditambah 16 halaman bagian depan yang berupa daftar isi dan tidak ada nomor halamannya. Setiap halaman rata-rata memuat 13 baris tulisan. Jenis kertas yang digunakan dalam penulisan naskah ini adalah kertas Eropa dengan watermark (cap kertas) Concordia van Gelder Zoonen. Tinta yang digunakan dalam penulisan berwarna hitam.
Dalam kata pengantarnya, Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka mengatakan bahwa kitab “Ghâyah al-Ikhtisâr” karangan Syaikh Abî Syujâ’, juga kitab “Muqaddimah Bâ-Fadhal” (atau Masâ’il al-Ta’lîm) karangan Syaikh Abdullâh Bâ-Fadhal al-Hadhramî, adalah dua kitab yang sangat penting kandungan isinya dan banyak dipedomani oleh mayoritas umat Muslim sebagai tuntunan ilmu fikih madzhab Syafi’i. Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka pun berhasrat untuk menuliskan syarah (penjelasan) dan terjemah atas dua kitab tersebut dalam bahasa Sunda, agar kemanfaatan dan kandungan isi kitab tersebut dapat dipahami secara lebih mudah dan luas oleh kalangan pembaca Sunda.
Pada pengantarnya, Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka juga menyinggung sosok gurunya, yaitu Syaikh Muhammad Shalih ibn ‘Umar al-Samârânî (Syaikh Soleh Darat Semarang). Sang guru menasehati dirinya akan pentingnya kemanfaatan ilmu sebagai salah satu bekal keabadian setelah mati, dan nasehat itu diingat dan dijalankan dengan baik oleh beliau.
Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka menulis;
تنا ايت جسيم كوريغ فقير حقير انو لغكوغ ضعيف فون محمد غزالي بن زين العارف مجالغكا حاجة بدي نرجمهكن كلاين غغكي باس سندا انمغ جسيم كوريغ هنت ايا فسن سئتك رومهوس تياس غدمل كراغن أتو أهل غدمل ترجمة.
(Tina eta jisim kuring fakir hakir anu langkung doip pun Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka hajat bade nerjemahkeun kalayan ngangge basa Sunda, anamung jisim kuring genteu aya pisan saeutik rumahos tiasa ngadamel karangan atawa ahli ngadamel tarjamah).
Terjemahan bahasa Indonesia dari teks di atas adalah sebagai berikut: “Darinya, saya yang fakir, hina, dan sangat lemah ini, yaitu Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka berkehendak untuk menerjemahkan dengan menggunakan bahasa Sunda. Namun demikian, saya sama sekali tidak merasa sebagai seorang yang ahli menulis karangan atau pun menerjemahkan).
Karya syarah dan terjemahan berbahasa Sunda ini kemudian dinamakan “Tarjamah al-Mukhtâr”. Dalam menulis karyanya ini, Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif Majalengka merujuk kepada beberapa sumber-sumber kitab, seperti “Fath al-Mukhtâr”, “Hâsyiah al-Bâjûrî” (karangan Syaikh Ibrahim al-Bajuri), “Minhâj al-Qawwîm” (karangan Syaikh Ibn Hajar al-Haitami), kitab karangan Sulaiman al-Kurdî (kemungkinan al-Hawâsyî al-Madaniyyah), “Murqât al-Shu’ûd”, “Kâsyifah al-Sajâ”, “Murâqî al-‘Ubûdiyyah” (ketiganya karangan Syaikh Nawawi Banten), “al-Durar al-Bahiyyah” (karangan Sayyid Bakri Syatha), dan “Fath al-Mu’în” (karangan Syaikh Zainuddin al-Malibari).
Keberadaan kitab “Tarjamah al-Mukhtâr” karya seorang ulama Majalengka bernama Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif yang merupakan syarah dan terjemah berbahasa Sunda atas kitab “Ghâyah al-Ikhtishâr” dan ditulis pada tahun 1317 Hijri (1900 Masehi) tentu memberikan data dan informasi yang kaya sekaligus penting terkait khazanah ulama Majalengka.
Data dan informasi tambahan lainnya adalah beliau murid dari Syaikh Soleh Darat Semarang. Sayangnya, saya belum mendapatkan informasi lanjutan siapakah gerangan sosok Syaikh Muhammad Ghazali bin Zainal Arif ini, dan di daerah Majalengka manakah tepatnya sang penulis karya ini berasal.

Kitab Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab


oleh : DR. Ahmad Ginanjar Sya'ban
Ini adalah naskah kitab yang berjudul “Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab” karangan salah satu pendiri organisasi Nahdtalul Ulama (NU) yang berasal dari Pasundan (Jawa Barat), tepatnya dari Leuwimunding, Majalengka, yaitu KH. Abdul Halim (1898-1972 M).
Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu-Indonesia beraksara Arab (Jawi-Pegon) dalam bentuk nazhaman (puisi Arab). Meski berjudul “Sejarah Perjuangan Kiyahi Haji Abdul Wahhab” (KH. Abdul Wahhab Hasbullah), namun kandungan kitab ini mengungkapkan sejarah besar pendirian dan perjuangan NU dari masa ke masa.
KH. Abdul Halim Leuwimunding adalah salah satu murid terdekat dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambak Beras Jombang), sekalus kader andalan beliau. Ketika ikut sama-sama membidani kehaliran NU pada tahun 1926 M di Surabaya, KH. Abdul Halim Leuwimunding menjadi salah satu pendiri termuda (selain KH. As’ad Syamsul Arifin, Asembagus Situbondo), sekaligus satu-satunya pendiri yang berasal dari Pasundan. Pada saat itu, KH. Abdul Wahhab Hasbullah menunjuk KH. Abdul Halim Leuwimunding sebagai katib tsani.
Melalui kitab ini, sejarah organisasi Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah itu didedahkan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding dalam bentuk puisi secara runut, ringkas, dan kaya akan data serta informasi. Karena itu, keberadaan kitab ini menjadi sangat penting sebagai salah satu sumber utama sejarah besar NU yang langsung ditulis oleh salah satu pendirinya.
Saya mendapatkan salinan naskah ini dari sahabat saya al-Fadhil Agus H. Muhammad al-Barra putra KH. Asep Saefuddin Halim, yang merupakan cucu dari pengarang kitab ini. Rencananya kitab ini akan dijadikan beliau sebagai bahan utama kajian disertasi doktoral beliau pada Departemen Filologi Universitas Padjadjaran Bandung.
Pada kolofon, disebutkan penulisan kitab ini diselesaikan pada 12 September 1970 M (bertepatan dengan 11 Rajab 1390 Hijri). Kitab ini kemudian dicetak oleh Percetakan “Baru” yang terletak di Jalan Pajagalan 3, Bandung (Jawa Barat), dengan tebal 31 halaman. Tertulis di sana;
دافت إذن دي جيتاك ايني رواية # ياله تغكال دوابلاس ايتو تفات
سفتيمبر سمبيلان بلس توجوه فولوه # سيا مغهادف كجومباغ دغن سغكوه
مودهمودهان توهن ممبري منفعة # فدا رواية ايني يغ سيا سيغكات
(Dapat izin dicetak ini riwayat # ialah tanggal dua belas itu tepat
September Sembilan belas tujuh puluh # saya menghadap ke Jombang dengan sungguh
Mudah-mudahan Tuhan memberi manfaat # pada riwayat ini yang saya singkat)
Melihat tanggal penulisan kitab ini dalam tahun Hijriah, yaitu 11 Rajab 1390 H), tampaknya kitab ini ditulis untuk menyambut peringatan hari lahir NU yang ke-46. Organisasi NU sendiri diresmikan pada 16 Rajab 1344 Hijri (bertepatan 31 Januari 1926 Masehi).
Dalam kata pengantarnya, KH. Abdul Halim Leuwimunding mengatakan jika banyak koleganya yang hendak mengetahui sejarah besar NU dari awal mula berdirinya, peran serta kiprahnya dalam perjuangan keagamaan Islam, kebangsaan Indonesia, serta kemanusiaan, hingga sampai pada tahun 1970 ketika karya ini ditulis dan NU sudah menjadi sebuah organisasi keislaman terbesar di Nusantara. Beliau menulis;
سيا بكين رواية فدا فوكويا # بياق تمان ايغين مغتاهوئييا
ايغين تاؤ اسال برديرييا # هيغكا جدي فرتي بسارله ياتيا
ميلوروه سوده دي كنال ناميا # تيدأ اسيغ دونيا مغتاهوئييا
مكا يغ تيمفو برديري فرتاميا # هيا تيغكال يغ ميسيه امفات اوراغيا
(Saya bikin riwayat pada poko[k]nya # banyak teman ingin mengetahuinya
Ingin tau asal NU berdirinya # hingga jadi [se]perti besarlah nyatanya
Menyeluruh sudah dikenal namanya # tidak asing dunia mengetahuinya
Maka yang tempo berdiri pertamanya # hanya tinggal yang masih empat orangnya).
KH. Abdul Halim Leuwimunding kemudian melanjutkan;
سيا يويون اياله دغن سعيران # بييار اناك تاؤ بركمبيرأن
مغتاهوئي علماء جارا برفيكير # مغتاهوئي تراديسي بهان فميكير
مورني تيدأ ترجامفور ايدي فنجاجه # سباب غرتي صفة منوسيا حرية
(Saya susun ialah dengan si’iran # biar anak-anak tau bergembiraan
Mengetahui ulama cara berpikir # mengetahui tradisi bahan pemikir
Murni tidak tercampuri ide penjajah # sebab ngerti sifat manusia huriah [merdeka]).
Dalam menulis kitab nazham sejarah besar NU ini, KH. Abdul Halim terlebih dahulu meminta izin dan restu dari KH. Abdul Wahhab Hasbullah (w. 1971 M) dan KH. Ahmad Syaikhu (w. ?), dan KH. Idham Cholid (yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU). KH. Abdul Halim Leuwimunding menulis;
سيا مينتا اذن فا كياهي وهاب # سباب ايتو كورو سيا وقتو طلب
مينتا اذن فا شيخو ياله سبابيا # سباب سورابيا مولائي برديرييا
جوكا مينتا اذن ككتوا عموم # فا كياهي إدهام فيمفنان هارس معلوم
(Saya minta izin Pak Kiyai Wahhab # sebab itu guru saya waktu tholab (belajar)
Minta izin Pak Syaikhu ialah sebabnya # sebab Surabaya mulai berdirinya (NU)
Juga minta izin ke ketua umum # Pak Kiyai Idham (Cholid) pemimpin harus maklum).
Dikatakan oleh KH. Abdul Halim Leuwimunding, bahwa dalam menyusun kitab nazham sejarah besar NU ini, dirinya bersandar pada muktamar-muktamar NU yang hingga pada masa itu sudah berlangsung 24 kali. Kesemua (24) muktamar itu selalu dihadiri oleh beliau. Karena itu, sebaga macam perkembangan, perubahan, dan keputusan NU dari masa ke masa dapat diketahui dengan sangat baik oleh beliau.
KH. Abdul Halim Leuwimunding wafat dan dikebumikan di tempat kelahirannya di Leuwimunding, Majalengka, pada 11 April 1972 M (bertepatan dengan 26 Safar 1392 Hijri). Beliau meninggalkan sebuah pesantren dan institusi pendidikan yang masih lestari hingga kini, yaitu Sabilul Chalim. Salah satu putra beliau, KH. Dr. Asep Saefuddin Chalim, tinggal dan berkarir di Surabaya dengan mendirikan pesantren unggulan Amanatul Ummah. Kiai Asep pernah menjabat sebagai ketua PCNU Surabaya dan Ketua PERGUNU PBNU.