Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Kamis, 05 Januari 2017

Risalah Belut Sebuah Perlawanan Islam Nusantara

~“al-Shawâ’iq al-Muhriqah fî Bayân Hill al-Belût”; Risalah Belut dan Perlawanan "Islam Nusantara" Atas “Stereotipe Makkah” (1911)


Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.Ini adalah halaman sampul dari kitab berjudul “al-Shawâ’iq al-Muhriqah li al-Awhâm al-Kâdzibah fî Bayân Hill al-Belût wa al-Radd ‘alâ Man Harramahu” (yang berarti ‘Halilintar yang Membakar Praksangka Dusta; Kitab yang Menerangkan Kehalalan Belut dan Bantahan Terhadap Pihak yang Mengharamkannya).

Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan dikarang oleh ulama besar Makkah asal Bogor, yaitu Syaikh Mukhtâr ibn ‘Athârid al-Bûghûrî al-Jâwî tsumma al-Makkî (w. 1349 H/ 1930 M).
Kitab ini memiliki latar belakang sosio-historis yang unik. Di akhir abad ke-19 M, jagat Makkah sempat digegerkan oleh mencuatnya ejekan dan pandangan miring dari sebagian masyarakat kota tersebut terhadap komunitas orang-orang Nusantara yang bermukim di sana. Orang-orang Makkah mengejek para pemukim Nusantara di sana karena mereka memakan hewan yang dipandang asing; belut!

Stereotipe (orang-orang) Makkah terhadap bangsa Muslim Nusantara ini terbangun atas kesalah fahaman. Orang-orang Makkah menyangka jika hewan yang dimakan oleh para pemukim Nusantara itu adalah ular (‘tsu’bân’ atau ‘hayyah’), karena bentuk belut memang mirip dengan ular.

Atas stereotipe ini, orang-orang Makkah pun mengejek para pemukim Nusantara sebagai bangsa primitif, pemakan ular, pemakan hewan haram. Mereka menyebut bangsa Nusantara sebagai bangsa yang tahu barang haram tetapi tetap memakannya.


Fenomena ini sempat juga direkam juga oleh Snouck Hurgronje ketika ia merada di Makkah pada tahun 1884-1885 dalam catatannya, “Mekka in the Latter Part of the 19th Century”. Belut telah menjadi sebuah “fenomena” di Makkah yang disalahfahami dan imbasnya adalah lekatnya citra negarif terhadap para pemukim Nusantara di sana yang mengkonsumsi hewan tersebut.
Syaikh Mukhtâr ibn ‘Athârid Bogor, yang juga guru besar hadits dan pengajar madzhab Syafi’i di Masjid al-Haram, Makkah, merasa terpanggil untuk mengkaji dan menjernihkan duduk perkara permasalahan “belut” yang disalah fahami ini.

Beliau pun menganggit sebuh risalah berjudul “al-Shawâ’iq al-Muhriqah li al-Awhâm al-Kâdzibah”, yang berarti “Halilintar yang Membakar Prasangka Dusta (orang-orang Arab tentang Belut)”. Kitab ini terbagi ke dalam tujuh bahasan (amr), ditambah satu bab, yang mana kesemuanya secara detail dan rinci mengkaji “belut” dari aspek ilmu alam (bilologi) dan fikih Islam.

Ditegaskan oleh Syaikh Mukhtâr, bahwa belut adalah “hewan sejenis ikan, berbentuk panjang, serupa ular, licin dan tiada bersisik. Warnanya kekuning-kuningan. Hewan tersebut hidup di habitatnya di dasar sungai atau sawah atau di sebalik batu di kolam-kolam”.
البلوت نوع من السمك طويل مثل الحية لكنه أملس لا قشر له لونه أصفر يسكن في أطراف الأنهار والمزارع في حجر مملوء ماء.
Dijelaskannya, bahwa padanan belut dalam istilah fikih adalah “Jirits”, sejenis ikan berfisik panjang, yang hidup di sebalik bebatuan di rawa-rawa dan sawah-sawah yang tergenang air. Syaikh Muktâr juga mengemukakan pendapat para ulama madzhab Syafi’i yang mengatakan kehalalan hewan “jirits” ini.

Dalam kolofon, tertulis bahwa risalah ini diselesaikan pada jam 9 malam Senin, 8 Muharram 1329 Hijri (9 Januari 1911 Masehi). Risalah ini kemudian dicetak untuk pertamakalinya oleh Mathba’ah al-Taraqqî al-Mâjidiyyah di Makkah, satu tahun kemudian (1430 H/ 1912 M).
Gambar sampul versi cetakan “Mathba’ah al-Taraqqî” ini saya dapatkan dari al-Fadhil Duktur Andi Syarifuddin Kemas. Saya sendiri memiliki naskah kitab ini versi salinan Pesantren Lirboyo Kediri (Jawa Timur).

Keberadaan kitab “al-Shawâ’iq al-Muhriqah” ini menarik bukan hanya dari aspek sosio-historisnya, tetapi juga dari semangat “perlawanan” pengarangnya terhadap stereotipe orang-orang Makkah terhadap Muslim Nusantara yang terbangun di atas kesalah fahaman.

Syaikh Mukhtâr tidak lantas membebek ikut-ikutan pendapat orang-orang Makkah yang pada saat itu mengharamkan kedudukan “belut” tersebut, tetapi justru memberikan “counter opinion” yang meluruskan stereotipe dan kesalahan fahaman itu, dengan dilengkapi argumen ilmiah, dengan disertai pendapat ulama-ulama dan sumber-sumber rujukan yang terpercaya (marâji’ mu’tamadah).
Bogor, Januari 2017
A. Ginanjar Sya’ban

0 komentar:

Posting Komentar