Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Senin, 09 Januari 2017

Durrah al-‘Aqâid fî ‘Ilm al-Tauhîd”; Mutiara Puisi Teologi Islam Karya Kiai Ahmad Nawawi Bulumanis

Ini adalah halaman sampul dari naskah berjudul “I’ânah al-Murîd fî Tarjamah Durrah al-‘Aqâid fî ‘Ilm al-Tauhîd” karya Mas’ud Abdul Rahman. “I’ânah al-Murîd” merupakan terjemahan dan penjelasan (syarh) berbahasa “Jawa Mriki” beraksara Arab (pegon) atas teks “Durrah al-‘Aqâid fî ‘Ilm al-Tauhîd”; puisi berisi ajaran teologi Islam karya Kiai Ahmad Nawawi bin Abdul Hamid Bulumanis, Pati (Jawa Tengah).
Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.Saya masih sangat asing dengan nama pengarang “Durrah al-‘Aqâid”, yaitu Kiai Ahmad Nawawi bin Abdul Hamid Bulumanis, Pati, juga dengan nama penerjemahnya (I’ânah al-Murîd), yaitu Kiai Mas’ud Abdul Rahman.
Dua karya di atas dicetak oleh “Karya Toha Putra” Semarang (tanpa tahun). Tak ada keterangan dan informasi yang memadai tentang sosok kedua tokoh pengarang dan penerjemah di atas dalam versi cetakan tersebut. Tidak disebutkan juga kapan naskah “Durrah al-‘Aqâid” dan terjemahannya, “I’ânah al-Murîd”, diselesaikan. Satu-satunya titimangsa yang terdapat dalam naskah cetakan ini adalah keterangan penyalin, yaitu “Hamidi Jagalaya, Demak, 25 April 2000”.
Keterangan tentang pengarang hanya sebatas nama dan nisbat saja. Tertulis di sana;
تأليف الشيخ العلامة أبي عبد الحميد أحمد نووي بن عبد الحميد القاسمي البولومانيسي الجواني
Ada tiga penisbatan yang terdapat di belakang nama pengarang, yaitu “al-Qâsimî” (Qasim), “al-Bulumanisi” (Bulumanis), dan “al-Juwani” (Juana). Adapun penerjemah, hanya disebutkan namanya saja, tanpa adanya tambahan nisbat sama sekali.
Meski demikian, di halaman sampul naskah ini terdapat sedikit keterangan yang bisa menghantarkan kita untuk lebih lanjut menggali informasi seputar naskah ini dan pengarangnya. Tertulis di sana jika naskah tersebut telah dikoreksi (ditashih) oleh Abû Hamdân ‘Abd al-Jalîl ibn ‘Abd al-Hamîd Quds (Kiai Abu Hamdan Abdul Jalil Kudus, Jawa Tengah).
Setelah dilakukan penelusuran, didapati informasi jika sosok Abu Hamdan Abdul Jalil bin Abdul Hamid Kudus adalah seorang ulama besar Nusantara yang dilahirkan di Bulumanis, Pati, pada 12 Juli 1905 M (1323 H). Beliau adalah putra dari Kiai Abdul Hamid Bulumanis. Kiai Abu Hamdan Abdul Jalil adalah murid dari KH. Dimyathi Tremas (adik Syaikh Mahfuzh Tremas), juga dari KH. Hasyim Asy’ari Jombang. Meski lahir di Bulumanis (Pati), namun beliau kemudian bermukim dan berkarir di kota Kudus.
Kuat diperkirakan, jika sosok Kiai Abu Hamdan Abdul Jalil ini adalah saudara kandung dari Kiai Ahmad Nawawi. Sebuah informasi lain menambahkan, jika K.H. Abdul Jalil adalah seorang “qadhi” dan ahli astronomi (falak). Beliau pernah menjadi qadhi (ketua Pengadilan Agama) Kudus, Anggota DPR / MPR pusat wakil Alim Ulama Fraksi NU, Ketua Lajnah Falakiyah PBNU merangkap anggota Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI (1969-1973), dan penyusun tetap penanggalan/almanak NU. Beliau satu generasi dengan KH. A. Wahhab Hasbullah, KH. Saifuddin Zuhri, KH. M. Iljas, dan KH. Masjkur. Beliau wafat pada tahun 1974.
Kiai Abu Hamdan Abdul Jalil juga memiliki karya dalam bidang astronomi berjudul “Fath al-Raûf al-Mannân”, “Jadwal al-Rub’”, dan dalam bidang fikih berujudl “Ahkâm al-Fuqahâ fi Muqarrarât Mu'tamarât Nahdlah al-‘Ulamâ” (Kumpulan Masalah-Masalah Diniyah dalam Muktamar NU ke-1 s/d 15).
Dari sedikit informasi di atas, bisa diperkirakan bahwa Kiai Ahmad Nawawi bin Abdul Hamid Bulumanis hidup di paruh pertama abad ke-20 M. Kitab “Jawâhir al-‘Aqâid” ini pun bisa diasumsikan dianggit pada tahun 1930-1950-an. Sementara, terjemahan kitab ini (I’ânah al-Murîd), dibuat pada tahun 1950-1970-an. Hal ini menimbang pada keberadaan Kiai Abu Hamdan Abdul Jalil bin Abdul Hamid Kudus sebagai sosok pentashih.
Sebuah keterangan yang didapatkan dari sumber lain (Fathurrahman Kariadi, Tebu Ireng Jombang), menyebutkan jika Kiai Ahmad Nawawi bin Abdul Hamid memiliki anggitan karya lain dalam bidang pedagogik dan etika pendidikan, yaitu “Jawâhir al-Adab”, yang berkerabat dengan karya KH. Hasyim Asy’ari dalam bidang yang sama, yaitu “Adab al-‘Âlim wa al-Muta’allim”.
Jakarta, Januari 2017
A. Ginanjar Sya’ban

0 komentar:

Posting Komentar