Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Rabu, 04 Januari 2017

“Al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd”; Morfologi Arab dalam Bahasa Jawa Pegon (1959)

Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban. Al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd”; Morfologi Arab dalam Bahasa Jawa Pegon (1959)
Ini adalah halaman sampul dan kata pengantar dari kitab “al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd” yang ditulis oleh KH. Ahmad Mutohar bin Abdurrahman Mranggen (Demak, Jawa Tengah, w. 2005). Kitab ini adalah terjemah dan penjelasan (syarh) dalam bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon atas teks nazham “al-Maqshûd fî ‘Ilm al-Sharf”.

Teks nazham “al-Maqshûd” sendiri terdiri dari 123 bait puisi dalam irama (bahr) “rajaz”. Teks ini menghimpun ringkasan teori ilmu morfologi Arab (ilmu shorof), karya Syaikh Ahmad ibn ‘Abd al-Rahîm al-Thahthâwî (w. 1885), seorang juru tulis, sastrawan, sekaligus jurnalis asal Mesir.

Ilmu shorof merupakan salah satu cawangan utama dari ilmu linguistik Arab. Ilmu ini erat juga kaitannya dengan “ilmu nahwu” (sintaksis Arab). Ilmu shorof mengkaji perubahan bentuk (derivasi/ tashrîf) satu kata ke bentuk yang lainnya, guna mendapatkan arti dan fungsi yang berbeda. Dalam rentang sejarah keilmuan bahasa Arab, terdapat banyak literatur ilmu morfologi Arab ini, mulai dari masa klasik hingga modern.

Nazham “al-Maqshûd” termasuk salah satu anggitan morfologi Arab di masa modern. Teks ini sangat populer, sehingga memiliki beberapa penjelasan dan komentar (syarh). Di antara syarh atas teks “al-Maqshûd” yang banyak dipedomani adalah “Hill al-Ma’qûd fî Syarh al-Maqshûd”, karangan linguis Arab asal Maroko yang sezaman dengan al-Thathâwî, yaitu Syaikh Muhammad ibn Ahmad ‘Allîsy al-Maghribî (w. 1882).

Di pesantren-pesantren tradisional di Nusantara (NU), keberadaan teks nazham “al-Maqshûd” tentu tidaklah asing. Teks ini banyak tersebar, dipelajari, dan dihafal oleh para pelajar di pesantren-pesantren tersebut.

Dalam tradisi intelektual pesantren di Nusantara, morfologi Arab (ilmu shorof) harus dikuasai oleh para pemula sebagai syarat mutlak untuk bisa membaca dan memahami teks-teks berbahasa Arab. Pembelajaran morfologi biasanya bersamaan dengan pembelajaran ilmu Sintaksis Arab (ilmu nahwu).

Di pesantren-pesantren tersebut, teks “al-Maqshûd” dipelajari sebagai lanjutan dari teks “al-Amtsilah al-Tashrîfiyyah” dalam bidang morfologi, yang bersama-sama dipelajari bersama teks “Mutammimah”, yang merupakan lanjutan dari teks “al-Âjurûmiyyah” dalam bidang sintaksis.
Nah, nazham “al-Maqshûd” ini kemudian diterjemahkan dan disyarah dalam bahasa Jawa beraksara Arab Pegon ole Kiyai Ahmad Mutohar bin Abdurrahman, salah satu pengasuh Pesantren “Futuhiyyah” di kampung Mranggen, Demak (Jawa Tengah). Terjemahan dan syarah tersebut kemudian diberi nama “al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd”.

“Al-Maufûd” diselesaikan pada bulan Shafar tahun 1379 H (Agustus 1959 M), dan dicetak oleh Maktabah Karya Toha Putra Semarang. Saya menemukan edisi cetakan ini di perpustakaan pesantren Edi Mancoro, Salatiga, sekitar bulan Februari tahun 2016 silam.

Dalam kata pengantarnya, Kiyai Mutohar Mranggen mengatakan bahwa teks “al-Maqshûd” adalah teks terbaik dalam bidang ilmu morfologi Arab yang dipelajari untuk kalangan pemula. Ia pun terdorong untuk menerjemahkan teks tersebut ke dalam bahasa kaumnya (Jawa Mriki) sekaligus memberikan sedikit penjelasan agar mudah difahami maksudnya.

Kiyai Mutohar terhitung produktif menerjemahkan berbagai kitab dari bahasa Arab ke bahasa Jawa Pegon, menyusul jejak kakak beliau, yaitu Kiyai Muslih bin Abdurrahman Mranggen yang juga produktif menerjemah. Umumnya kitab-kitab yang beliau terjemah adalah kitab-kitab yang menjadi acuan bahan ajar di pesantren-pesantren Nusantara.

Selain menerjemah nazham “al-Maqshûd”, beliau juga menerjemah nazham “al-‘Imrîthî”, “al-Wâfiyyah fî Tarjamah Alfiyyah (Ibn Mâlik)”, dan lain-lain. Nafa’anallahu ta’ala bihi wa bi ‘ulumihi fiddaraini.
Majalengka-Bogor, Januari 2017
A. Ginanjar Sya’ban

0 komentar:

Posting Komentar