Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Pesantren antara Ilmu dan akhlak

Pesantren adalah kelanjutan metode pengajaran dan pembelajaran RasuluLLah kepada ahlussuffah dengan mengedepankan bahasa contoh tidak sekedar teori.

Santri dan Nilai-Nilai Kebangsaan

Sejak masa perjuangan kemerdekaan, pesantren adalah poros penting sebagai basis pejuang. Karenanya santri akan senantiasa menjadi penjaga nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air.

Gudang Mahakarya Keilmuan

Ulama-ulama pesantren di Nusantara sejak dahulu telah mengharumkan nusantara di dunia keilmuan Islam melalui berbagai mahakarya keilmuan yang mereka susun dalam berbagai macam kitab.

Pentingnya Pesantren dan Madrasah Diniyah

Pesantren dan Madrasah Diniyah menempa para santri untuk mampu menyeimbangkan ilmu dan amal demi kepentingan Dunia dan Akhirat

Obyek Ilmu dan Tempat Menggali Ilmu

Ciri khas Pesantren adalah Kemandirian dan Kesederhanaan, bagi santri pesantren setiap yang terlihat adalah obyek ilmu dan setiap tempat adalah tempat meraih ilmu manfaat.

Selasa, 17 Januari 2017

Dua Gawe Besar Pondok Pesantren

Sidoarjo, 17.01.17 Dalam rangka mempersiapkan dua pekerjaan besar Pondok Pesantren yaitu ujian nasional bagi santri peserta wajardikdas/kejar paket dan Musabaqah Qiraatul Kutub yang rencananya bulan Agustus mendatang ditingkat nasional akan diselenggarakan di Balekambang Jepara, Kanwil Kementerian Agama Propinsi Jawa Timur menggelar Rapat Kordinasi dengan seluruh Kepala Seksi PD Pontren Kementerian Agama Kab/Ko se Jawa Timur. 

Acara yang digelar di Aula Kementerian Agama Propinsi Jawa Timur ini diwarnai keluh kesah daerah dalam mengupayakan keikutsertaan santri peserta program kejar paket dalam ujian nasional mendatang. Kebijakan pemerintah melalui Dinas Pendidikan yang mengharuskan peserta ujian harus masuk dalam data Dapodiknas ternyata terlambat direspon oleh Kementerian Agama. H. Mas'ud selaku Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Propinsi Jawa Timur, menjanjikan bantuan penyelesaian masalah ini dengan secepatnya berkordinasi bersama Diknas Propinsi.

Beralihnya wewenang jenjang sekolah setingkat SMA termasuk Kejar Paket C yang belum terkordinasikan dengan Kementerian Agama yang membawahi Pondok Pesantren penyelenggara Kejar Paket membuat pesantren terlambat mendaftarkan santrinya ke dalam program Dapodik. HM. Naim selaku Kepala Seksi yang membawahi program wajib belajar pendidikan dasar dan kejar paket meminta seluruh kab/ko mengirimkan data santri peserta ujian untuk kemudian diusulkan untuk segera masuk program dapodiknas. 

Selain pembahasan tentang ujian nasional, rapat kerja juga membahas persiapan Musabaqah Qiroatul Kutub yang menurut draf petunjuk pelaksanaannya akan terjadi pembengkakan peserta dari 46 cabang lomba, menjadi 72 cabang lomba.  Musabaqah yang rencananya akan diselenggarakan selama 9 hari ini, juga akan menggelar Eksebisi atraksi pembacaan nadzam yang diiringi dengan musik. (ach)

Senin, 09 Januari 2017

Durrah al-‘Aqâid fî ‘Ilm al-Tauhîd”; Mutiara Puisi Teologi Islam Karya Kiai Ahmad Nawawi Bulumanis

Ini adalah halaman sampul dari naskah berjudul “I’ânah al-Murîd fî Tarjamah Durrah al-‘Aqâid fî ‘Ilm al-Tauhîd” karya Mas’ud Abdul Rahman. “I’ânah al-Murîd” merupakan terjemahan dan penjelasan (syarh) berbahasa “Jawa Mriki” beraksara Arab (pegon) atas teks “Durrah al-‘Aqâid fî ‘Ilm al-Tauhîd”; puisi berisi ajaran teologi Islam karya Kiai Ahmad Nawawi bin Abdul Hamid Bulumanis, Pati (Jawa Tengah).
Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.Saya masih sangat asing dengan nama pengarang “Durrah al-‘Aqâid”, yaitu Kiai Ahmad Nawawi bin Abdul Hamid Bulumanis, Pati, juga dengan nama penerjemahnya (I’ânah al-Murîd), yaitu Kiai Mas’ud Abdul Rahman.
Dua karya di atas dicetak oleh “Karya Toha Putra” Semarang (tanpa tahun). Tak ada keterangan dan informasi yang memadai tentang sosok kedua tokoh pengarang dan penerjemah di atas dalam versi cetakan tersebut. Tidak disebutkan juga kapan naskah “Durrah al-‘Aqâid” dan terjemahannya, “I’ânah al-Murîd”, diselesaikan. Satu-satunya titimangsa yang terdapat dalam naskah cetakan ini adalah keterangan penyalin, yaitu “Hamidi Jagalaya, Demak, 25 April 2000”.
Keterangan tentang pengarang hanya sebatas nama dan nisbat saja. Tertulis di sana;
تأليف الشيخ العلامة أبي عبد الحميد أحمد نووي بن عبد الحميد القاسمي البولومانيسي الجواني
Ada tiga penisbatan yang terdapat di belakang nama pengarang, yaitu “al-Qâsimî” (Qasim), “al-Bulumanisi” (Bulumanis), dan “al-Juwani” (Juana). Adapun penerjemah, hanya disebutkan namanya saja, tanpa adanya tambahan nisbat sama sekali.
Meski demikian, di halaman sampul naskah ini terdapat sedikit keterangan yang bisa menghantarkan kita untuk lebih lanjut menggali informasi seputar naskah ini dan pengarangnya. Tertulis di sana jika naskah tersebut telah dikoreksi (ditashih) oleh Abû Hamdân ‘Abd al-Jalîl ibn ‘Abd al-Hamîd Quds (Kiai Abu Hamdan Abdul Jalil Kudus, Jawa Tengah).
Setelah dilakukan penelusuran, didapati informasi jika sosok Abu Hamdan Abdul Jalil bin Abdul Hamid Kudus adalah seorang ulama besar Nusantara yang dilahirkan di Bulumanis, Pati, pada 12 Juli 1905 M (1323 H). Beliau adalah putra dari Kiai Abdul Hamid Bulumanis. Kiai Abu Hamdan Abdul Jalil adalah murid dari KH. Dimyathi Tremas (adik Syaikh Mahfuzh Tremas), juga dari KH. Hasyim Asy’ari Jombang. Meski lahir di Bulumanis (Pati), namun beliau kemudian bermukim dan berkarir di kota Kudus.
Kuat diperkirakan, jika sosok Kiai Abu Hamdan Abdul Jalil ini adalah saudara kandung dari Kiai Ahmad Nawawi. Sebuah informasi lain menambahkan, jika K.H. Abdul Jalil adalah seorang “qadhi” dan ahli astronomi (falak). Beliau pernah menjadi qadhi (ketua Pengadilan Agama) Kudus, Anggota DPR / MPR pusat wakil Alim Ulama Fraksi NU, Ketua Lajnah Falakiyah PBNU merangkap anggota Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI (1969-1973), dan penyusun tetap penanggalan/almanak NU. Beliau satu generasi dengan KH. A. Wahhab Hasbullah, KH. Saifuddin Zuhri, KH. M. Iljas, dan KH. Masjkur. Beliau wafat pada tahun 1974.
Kiai Abu Hamdan Abdul Jalil juga memiliki karya dalam bidang astronomi berjudul “Fath al-Raûf al-Mannân”, “Jadwal al-Rub’”, dan dalam bidang fikih berujudl “Ahkâm al-Fuqahâ fi Muqarrarât Mu'tamarât Nahdlah al-‘Ulamâ” (Kumpulan Masalah-Masalah Diniyah dalam Muktamar NU ke-1 s/d 15).
Dari sedikit informasi di atas, bisa diperkirakan bahwa Kiai Ahmad Nawawi bin Abdul Hamid Bulumanis hidup di paruh pertama abad ke-20 M. Kitab “Jawâhir al-‘Aqâid” ini pun bisa diasumsikan dianggit pada tahun 1930-1950-an. Sementara, terjemahan kitab ini (I’ânah al-Murîd), dibuat pada tahun 1950-1970-an. Hal ini menimbang pada keberadaan Kiai Abu Hamdan Abdul Jalil bin Abdul Hamid Kudus sebagai sosok pentashih.
Sebuah keterangan yang didapatkan dari sumber lain (Fathurrahman Kariadi, Tebu Ireng Jombang), menyebutkan jika Kiai Ahmad Nawawi bin Abdul Hamid memiliki anggitan karya lain dalam bidang pedagogik dan etika pendidikan, yaitu “Jawâhir al-Adab”, yang berkerabat dengan karya KH. Hasyim Asy’ari dalam bidang yang sama, yaitu “Adab al-‘Âlim wa al-Muta’allim”.
Jakarta, Januari 2017
A. Ginanjar Sya’ban

Kamis, 05 Januari 2017

Risalah Belut Sebuah Perlawanan Islam Nusantara

~“al-Shawâ’iq al-Muhriqah fî Bayân Hill al-Belût”; Risalah Belut dan Perlawanan "Islam Nusantara" Atas “Stereotipe Makkah” (1911)


Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.Ini adalah halaman sampul dari kitab berjudul “al-Shawâ’iq al-Muhriqah li al-Awhâm al-Kâdzibah fî Bayân Hill al-Belût wa al-Radd ‘alâ Man Harramahu” (yang berarti ‘Halilintar yang Membakar Praksangka Dusta; Kitab yang Menerangkan Kehalalan Belut dan Bantahan Terhadap Pihak yang Mengharamkannya).

Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan dikarang oleh ulama besar Makkah asal Bogor, yaitu Syaikh Mukhtâr ibn ‘Athârid al-Bûghûrî al-Jâwî tsumma al-Makkî (w. 1349 H/ 1930 M).
Kitab ini memiliki latar belakang sosio-historis yang unik. Di akhir abad ke-19 M, jagat Makkah sempat digegerkan oleh mencuatnya ejekan dan pandangan miring dari sebagian masyarakat kota tersebut terhadap komunitas orang-orang Nusantara yang bermukim di sana. Orang-orang Makkah mengejek para pemukim Nusantara di sana karena mereka memakan hewan yang dipandang asing; belut!

Stereotipe (orang-orang) Makkah terhadap bangsa Muslim Nusantara ini terbangun atas kesalah fahaman. Orang-orang Makkah menyangka jika hewan yang dimakan oleh para pemukim Nusantara itu adalah ular (‘tsu’bân’ atau ‘hayyah’), karena bentuk belut memang mirip dengan ular.

Atas stereotipe ini, orang-orang Makkah pun mengejek para pemukim Nusantara sebagai bangsa primitif, pemakan ular, pemakan hewan haram. Mereka menyebut bangsa Nusantara sebagai bangsa yang tahu barang haram tetapi tetap memakannya.


Fenomena ini sempat juga direkam juga oleh Snouck Hurgronje ketika ia merada di Makkah pada tahun 1884-1885 dalam catatannya, “Mekka in the Latter Part of the 19th Century”. Belut telah menjadi sebuah “fenomena” di Makkah yang disalahfahami dan imbasnya adalah lekatnya citra negarif terhadap para pemukim Nusantara di sana yang mengkonsumsi hewan tersebut.
Syaikh Mukhtâr ibn ‘Athârid Bogor, yang juga guru besar hadits dan pengajar madzhab Syafi’i di Masjid al-Haram, Makkah, merasa terpanggil untuk mengkaji dan menjernihkan duduk perkara permasalahan “belut” yang disalah fahami ini.

Beliau pun menganggit sebuh risalah berjudul “al-Shawâ’iq al-Muhriqah li al-Awhâm al-Kâdzibah”, yang berarti “Halilintar yang Membakar Prasangka Dusta (orang-orang Arab tentang Belut)”. Kitab ini terbagi ke dalam tujuh bahasan (amr), ditambah satu bab, yang mana kesemuanya secara detail dan rinci mengkaji “belut” dari aspek ilmu alam (bilologi) dan fikih Islam.

Ditegaskan oleh Syaikh Mukhtâr, bahwa belut adalah “hewan sejenis ikan, berbentuk panjang, serupa ular, licin dan tiada bersisik. Warnanya kekuning-kuningan. Hewan tersebut hidup di habitatnya di dasar sungai atau sawah atau di sebalik batu di kolam-kolam”.
البلوت نوع من السمك طويل مثل الحية لكنه أملس لا قشر له لونه أصفر يسكن في أطراف الأنهار والمزارع في حجر مملوء ماء.
Dijelaskannya, bahwa padanan belut dalam istilah fikih adalah “Jirits”, sejenis ikan berfisik panjang, yang hidup di sebalik bebatuan di rawa-rawa dan sawah-sawah yang tergenang air. Syaikh Muktâr juga mengemukakan pendapat para ulama madzhab Syafi’i yang mengatakan kehalalan hewan “jirits” ini.

Dalam kolofon, tertulis bahwa risalah ini diselesaikan pada jam 9 malam Senin, 8 Muharram 1329 Hijri (9 Januari 1911 Masehi). Risalah ini kemudian dicetak untuk pertamakalinya oleh Mathba’ah al-Taraqqî al-Mâjidiyyah di Makkah, satu tahun kemudian (1430 H/ 1912 M).
Gambar sampul versi cetakan “Mathba’ah al-Taraqqî” ini saya dapatkan dari al-Fadhil Duktur Andi Syarifuddin Kemas. Saya sendiri memiliki naskah kitab ini versi salinan Pesantren Lirboyo Kediri (Jawa Timur).

Keberadaan kitab “al-Shawâ’iq al-Muhriqah” ini menarik bukan hanya dari aspek sosio-historisnya, tetapi juga dari semangat “perlawanan” pengarangnya terhadap stereotipe orang-orang Makkah terhadap Muslim Nusantara yang terbangun di atas kesalah fahaman.

Syaikh Mukhtâr tidak lantas membebek ikut-ikutan pendapat orang-orang Makkah yang pada saat itu mengharamkan kedudukan “belut” tersebut, tetapi justru memberikan “counter opinion” yang meluruskan stereotipe dan kesalahan fahaman itu, dengan dilengkapi argumen ilmiah, dengan disertai pendapat ulama-ulama dan sumber-sumber rujukan yang terpercaya (marâji’ mu’tamadah).
Bogor, Januari 2017
A. Ginanjar Sya’ban

Rabu, 04 Januari 2017

“Al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd”; Morfologi Arab dalam Bahasa Jawa Pegon (1959)

Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban. Al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd”; Morfologi Arab dalam Bahasa Jawa Pegon (1959)
Ini adalah halaman sampul dan kata pengantar dari kitab “al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd” yang ditulis oleh KH. Ahmad Mutohar bin Abdurrahman Mranggen (Demak, Jawa Tengah, w. 2005). Kitab ini adalah terjemah dan penjelasan (syarh) dalam bahasa Jawa beraksara Arab-Pegon atas teks nazham “al-Maqshûd fî ‘Ilm al-Sharf”.

Teks nazham “al-Maqshûd” sendiri terdiri dari 123 bait puisi dalam irama (bahr) “rajaz”. Teks ini menghimpun ringkasan teori ilmu morfologi Arab (ilmu shorof), karya Syaikh Ahmad ibn ‘Abd al-Rahîm al-Thahthâwî (w. 1885), seorang juru tulis, sastrawan, sekaligus jurnalis asal Mesir.

Ilmu shorof merupakan salah satu cawangan utama dari ilmu linguistik Arab. Ilmu ini erat juga kaitannya dengan “ilmu nahwu” (sintaksis Arab). Ilmu shorof mengkaji perubahan bentuk (derivasi/ tashrîf) satu kata ke bentuk yang lainnya, guna mendapatkan arti dan fungsi yang berbeda. Dalam rentang sejarah keilmuan bahasa Arab, terdapat banyak literatur ilmu morfologi Arab ini, mulai dari masa klasik hingga modern.

Nazham “al-Maqshûd” termasuk salah satu anggitan morfologi Arab di masa modern. Teks ini sangat populer, sehingga memiliki beberapa penjelasan dan komentar (syarh). Di antara syarh atas teks “al-Maqshûd” yang banyak dipedomani adalah “Hill al-Ma’qûd fî Syarh al-Maqshûd”, karangan linguis Arab asal Maroko yang sezaman dengan al-Thathâwî, yaitu Syaikh Muhammad ibn Ahmad ‘Allîsy al-Maghribî (w. 1882).

Di pesantren-pesantren tradisional di Nusantara (NU), keberadaan teks nazham “al-Maqshûd” tentu tidaklah asing. Teks ini banyak tersebar, dipelajari, dan dihafal oleh para pelajar di pesantren-pesantren tersebut.

Dalam tradisi intelektual pesantren di Nusantara, morfologi Arab (ilmu shorof) harus dikuasai oleh para pemula sebagai syarat mutlak untuk bisa membaca dan memahami teks-teks berbahasa Arab. Pembelajaran morfologi biasanya bersamaan dengan pembelajaran ilmu Sintaksis Arab (ilmu nahwu).

Di pesantren-pesantren tersebut, teks “al-Maqshûd” dipelajari sebagai lanjutan dari teks “al-Amtsilah al-Tashrîfiyyah” dalam bidang morfologi, yang bersama-sama dipelajari bersama teks “Mutammimah”, yang merupakan lanjutan dari teks “al-Âjurûmiyyah” dalam bidang sintaksis.
Nah, nazham “al-Maqshûd” ini kemudian diterjemahkan dan disyarah dalam bahasa Jawa beraksara Arab Pegon ole Kiyai Ahmad Mutohar bin Abdurrahman, salah satu pengasuh Pesantren “Futuhiyyah” di kampung Mranggen, Demak (Jawa Tengah). Terjemahan dan syarah tersebut kemudian diberi nama “al-Maufûd fî Tarjamah al-Maqshûd”.

“Al-Maufûd” diselesaikan pada bulan Shafar tahun 1379 H (Agustus 1959 M), dan dicetak oleh Maktabah Karya Toha Putra Semarang. Saya menemukan edisi cetakan ini di perpustakaan pesantren Edi Mancoro, Salatiga, sekitar bulan Februari tahun 2016 silam.

Dalam kata pengantarnya, Kiyai Mutohar Mranggen mengatakan bahwa teks “al-Maqshûd” adalah teks terbaik dalam bidang ilmu morfologi Arab yang dipelajari untuk kalangan pemula. Ia pun terdorong untuk menerjemahkan teks tersebut ke dalam bahasa kaumnya (Jawa Mriki) sekaligus memberikan sedikit penjelasan agar mudah difahami maksudnya.

Kiyai Mutohar terhitung produktif menerjemahkan berbagai kitab dari bahasa Arab ke bahasa Jawa Pegon, menyusul jejak kakak beliau, yaitu Kiyai Muslih bin Abdurrahman Mranggen yang juga produktif menerjemah. Umumnya kitab-kitab yang beliau terjemah adalah kitab-kitab yang menjadi acuan bahan ajar di pesantren-pesantren Nusantara.

Selain menerjemah nazham “al-Maqshûd”, beliau juga menerjemah nazham “al-‘Imrîthî”, “al-Wâfiyyah fî Tarjamah Alfiyyah (Ibn Mâlik)”, dan lain-lain. Nafa’anallahu ta’ala bihi wa bi ‘ulumihi fiddaraini.
Majalengka-Bogor, Januari 2017
A. Ginanjar Sya’ban