Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Sabtu, 24 Desember 2016

Ushul Fiqh Karya Cucu Syaikh Nawawi Banten

Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.~ “al-Aqwâl al-Mulhaqât ‘alâ Mukhtashar al-Waraqât”; Kitab Ushul Fiqih Karangan Cucu Syaikh Nawawi Banten
Ini adalah halaman pertama dan kedua dari manuskrip kitab “al-Aqwâl al-Mulhaqât ‘alâ Mukhtashar al-Waraqât” yang mengkaji ilmu ushul fiqih. Pengarang kitab ini adalah Syaikh ‘Abd al-Haqq ibn ‘Abd al-Hannân al-Jâwî al-Makkî (w. 1906 M), yang merupakan cucu dari Syaikh Nawawî ibn ‘Umar al-Bantanî al-Jâwî tsumma al-Makkî (Nawawi Banten, w. 1897 M) dari jalur ibu.
Naskah ini tersimpan di perpustakaan Makkah al-Mukarramah, KSA. Jumlah keseluruhan naskah 31 halaman, termasuk halaman sampul (muka). Di setiap halaman terdapat stema (hâmisy/ catatan pinggir). Kondisi naskah terbilang baik, dan tulisan pada naskah relatif mudah dibaca. Dalam kolofon, penulis menyebutkan jika ia menyelesaikan karyanya ini pada malam hari tanggal 24 Rabî’ al-Akhîr 1312 H (14 Oktober 1894 M).
Kitab ini merupakan “hâsyiah” (ulasan panjang/ great comment) atas “syarh” Tahqîq al-Kalimât fî Ushûl al-Fiqhiyyât atau Syarh Mukhtashar al-Waraqât karangan Syaikh Abû al-Hasan al-Bakrî atas “matn” (teks) al-Waraqât. Kitab ini sudah ditahqiq  dan diterbitkan oleh Yayasan Turats Ulama Nusantara (TUN), Demas, Indonesia, pada medio tahun ini.
Pada mulanya, saya mengira “al-Aqwâl al-Mulhaqât” ini adalah penjelasan (syarh) dari puisi (manzhûmah) “al-Fushûl al-Bahiyyah fî al-Ushûl al-Fiqhiyyah, Nazhm Mukhtashar al-Waraqat” yang merupakan gubahan puisi atas teks al-Waraqât, yang juga karya al-Bakrî. Tapi informasi yang didapat dari al-Muhaqqiq Mbah Riyan, ternyata al-Aqwâl al-Mulhaqât adalah hâsyiah atas syarh “Tahqîq al-Kalimât” atau “Syarh Mukhtashar al-Waraqât”. Saya menghaturkan banyak terima kasih kepada beliau atas informasi yang sangat berharga ini.
Kita akan udar satu persatu tentang hubungan antara “teks” (matn) al-Waraqât, penjelasannya (syarh) yang berjudul “Mukhtashar al-Waraqât”, lalu ulasan panjangannya (hâsyiah) yang berjudul “al-Aqwâl al-Mulhaqât”.
Pertama, teks (matn) “al-Waraqât” adalah teks yang sangat popular dalam bidang kajian ushul fiqih (filsafat yurisprudensi Islam) karangan al-Imâm al-Juwainî atau yang dikenal juga dengan nama Imâm al-Haramain (w. 1085 M). Teks tersebut disebut sebagai; “tipis ukurannya, banyak kandungan ilmunya, besar kemanfaatannya, dan terasa keberkahannya”.
Karena populernya teks (matn) tersebut, ada banyak komentar dan penjelasan (syarh) atasnya, juga ada beberapa gubahannya dalam bentuk puisi (manzhûmah). Di antara salah satu penjelasan (syarh) tersebut adalah yang ditulis oleh Syaikh Abû al-Hasan al-Bakrî (w. 952 H), seorang ulama ushul fiqih asal Mesir.
Penjelasan (syarh) berjudul “Tahqîq al-Kalimât fî Ushûl al-Fiqhiyyât” atau popular dengan “Syarh Mukhtashar al-Waraqât”, yang kemudian diulas panjang (hâsyiah) oleh Syaikh ‘Abd al-Haqq al-Jâwî ini. Ulasan panjang ini dijuduli “al-Aqwâl al-Mulhaqât ‘alâ Syarh Mukhtashar al-Waraqât”.
“Al-Aqwâl al-Mulhaqât” berkerabat dengan naskah “al-Nafahât” yang juga dikarang oleh ulama Nusantara lainnya dan juga berkarir di Makkah, yaitu Syaikh Ahmad ibn ‘Abd al-Lathîf ibn ‘Abdullâh al-Khatîb al-Mankabâwî tsumma al-Makkî (Ahmad Khatib Minangkabau, w. 1916 M).
“al-Nafahât” karya Ahmad Khatib Minangkabau adalah ulasan panjang (hâsyiah) atas penjelasan (syarh) “al-Waraqât” yang ditulis oleh Syaikh Jalâl al-Dîn al-Mahallî (w. 1459 M), sementara ‘Abd al-Haqq al-Jâwî menulis “hâsyiah” atas “syarh” Syaikh Abû al-Hasan al-Bakrî (w. 1583 M).
Keduanya dipertemukan oleh naskah “syarh” al-Syaikh al-Mahallî, di mana ‘Abd al-Haqq al-Jâwî dalam kata pengantarnya menyebutkan jika dalam upaya menjelaskan isi kandungan syarh “Mukhtashar al-Waraqât” karya al-Bakrî ini, ia banyak merujuk pada penjelasan yang ditulis oleh al-Mahallî.
Selain dengan al-Nafahât” karangan Ahmad Khatib, naskah “al-Aqwâl al-Mulhaqât” juga berkerabat dengan naskah “Lathâif al-Isyârat” karangan Syaikh ‘Abd al-Hamîd Quds (w. 1915 M), ulama besar Makkah yang memiliki jejaring dengan ulama Nusantara. “Lathâif al-Isyârat” merupakan penjelasan atas puisi al-Waraqât lainnya yang berjudul “Tashîl al-Thuruqât” karangan Syaikh Syaraf al-Dîn al-‘Imrîthî (w. 1485 M).
Jadi, bisa dibuatkan skema peta kekerabatan antar naskah-naskah di atas sebagai berikut
(1) Teks (matn) “al-Waraqât” --> Penjelasan (syarh) “Mukhtashar al-Waraqât” oleh al-Bakrî --> Ulasan panjang (hâsyiah) “al-Aqwâl al-Mulhaqât” oleh ‘Abd al-Haqq al-Jâwî.
(2) Teks (matn) “al-Waraqât” --> Gubahan puisinya (manzhûmah) “Tashîl al-Thuruqât” oleh al-‘Imrîthî --> Penjelasannya (syarh) “Lathâif al-Isyârât” oleh ‘Abd al-Hamîd Quds.
(3) Teks (matn) “al-Waraqât” --> Penjelasannya (syarh) oleh al-Mahallî --> Ulasan panjangnya (hâsyiah) oleh Ahmad Khatib Minangkabau.
Dalam beberapa sumber kajian biografi berbahasa Arab, Syaikh ‘Abd al-Haqq al-Jâwî dikenal sebagai sosok yang alim allamah, pakar ilmu ushul fiqih dan sharaf Arab, meski usianya terbilang masih sangat muda. Oleh beberapa ulama di Makkah, Syaikh ‘Abd al-Haqq al-Jâwî ini dijuluki sebagai “Sibth al-Nawawî” (Cucu Syaikh Nawawi Banten) dan “Tsânîhi” yang menegaskan dirinya sebagai sosok Syaikh Nawawi kedua sekaligus penerus trah intelektualnya.
Beliau dilahirkan di Makkah pada tahun 1285 H (1868 M). Ayahnya adalah Syaikh ‘Abd al-Hannân al-Jâwî adalah salah satu ulama Nusantara asal Serang (Banten) yang ber-”mujâwarah” di Makkah, untuk kemudian menjadi menantu Syaikh Nawawi Banten. Selain Syaikh ‘Abd al-Hannân, menantu Syaikh Nawawi lainnya adalah Syaikh Asy’ari Bawean yang terkenal sebagai ulama ahli astronomi (falak).
Sayangnya, Syaikh Abdul Haqq wafat muda, padahal sosoknya digadang-gadang banyak ulama di Makkah akan menjadi penerus trah intelektual kakeknya, yaitu Syaikh Nawawi Banten. Beliau wafat di Makkah pada hari Sabtu, 19 Rabiul Tsani tahun 1324 H (1906 M) dan dikuburkan di Ma’la, Makkah.
Caringin, Sukabumi, Desember 2016
A. Ginanjar Sya’ban

0 komentar:

Posting Komentar