Berakhlak Mulia, Santri Cendekia

Senin, 26 Desember 2016

Puisi-Puisi Spiritual dari Palembang

~ Puisi-Puisi Spiritual dari Palembang Karya Syaikh Muhammad Azharî al-Falambânî (w. 1932)
Ini adalah halaman sampul bagian dalam dari buku berjudul “Syair-Syair Spiritual Syekh Muhammad Azhari al-Palembani” yang disunting oleh DR. KH. Kemas Andi Syarifuddin dan diterbitkan oleh Zuriat Datuk Azhari, Palembang (Sumatera Selatan), pada Januari 2015.
Foto Ahmad Ginanjar Sya'ban.Sementara gambar yang terdapat di sampingnya adalah halaman puisi berjudul “al-Mahmûdah” yang terdapat dalam kitab “Bidâyah al-‘Ilmiyyah” karya al-Azharî (tidak diketahui nama penerbit dan tahun terbitnya).
Saya mendapatkan buku ini dari penyuntingnya, al-Mukarram DR. Andi Syarifuddin Kemas pada 15 Maret 2016 lalu, ketika mengisi seminar nasional bertema “Palembang Sebagai Pusat Kajian Hadits Internasional Sepanjang Tiga Abad” yang diadakan oleh Pascasarjana UIN Palembang, bersama al-Fadhil DR. Mastuki Hs dan al-Fadhil DR. Zainul Milal Bizawie.
Dalam buku ini terhimpun kumpulan puisi spiritual yang dikarang oleh Syaikh Muhammad Azharî ibn Abdullâh al-Falambânî al-Jâwî, seorang ulama besar negeri Palembang Darussalam pada abad ke-14 Hijri (akhir abad ke-19 M-awal 20 M).
Puisi-puisi spiritual tersebut terdapat dan tersebar di beberapa bagian karya Syaikh Muhammad Azharî yang bermacam-macam, yang kemudian dihumpun, dialihaksara (transliterasi), dan disunting oleh DR. KH. Kemas Andi Syarifuddin dari beberapa karya tersebut, yaitu (1) Badî’ al-Zamân (1890), (2) ‘Aqâid al-Îmân (1891), (3) Ta’lîm al-Shalâh (1901), dan (4) Bidâyah al-‘Ilmiyyah (1917).
Puisi-puisi tersebut ditulis dalam bahasa Melayu dialek Palembang beraksara Arab (Jawi). Jumlah keseluruhan terdapat 12 (dua belas) puisi, dengan tema kajian keislaman yang bermacam-macam, mulai dari teologi Islam (‘ilm al-tauhîd), yurisprudensi Islam (fiqh), etika (akhlâq), hingga esoterisme Islam (tasawuf).
Tema-tema kajian keislaman tersebut disampaikan oleh Syaikh Muhammad Azharî dengan bahasa yang bersastra nan indah, namun tidak sulit untuk difaham kalangan awam. Melalui puisi-puisi itu, Syaikh Muhammad Azharî hendak menyampaikan keluhuran ajaran Islam dengan berbalut keindahan sastrawi.
Syaikh Muhammad Azharî lahir di Palembang pada tahun 1856. Beliau tergabung dalam jaringan besar ulama Nusantara-Haramain pada akhir abad ke-19 M, segenerasi dengan Syaikh Muhammad Mahfuzh Tremas, Syaikh Muhammad Zaini Aceh, Syaikh Soleh Darat Semarang, Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syaikh Thahir Jalaluddin Padang, Syaikh Baqir Jogja, dan lain-lain.
Muhammad Azharî juga sempat mengenyam pendidikan di Al-Azhar Kairo, Mesir. Oleh karena itulah gelar “Azharî” di belakang namanya adalah nisbat yang menunjukkan jika beliau adalah santri Al-Azhar. Asumsi saya, Muhammad Azharî berada di Al-Azhar Kairo pada tahun 1880-an, segenerasi dengan Ahmad Fathanî (Pattani) dan Ismâil al-Jâwî (Aceh).
Sepulang dari Timur Tengah, Muhammad Azharî melanjutkan karirnya di Palembang, kota asalnya. Ia pun menjadi salah satu cendikiawan besar yang namanya malang melintang dan memiliki ratusan siswa. Muhammad Azharî juga terhitung produktif berkarya. Hampir semua karya-karya Azharî ditulis dalam bahasa Melayu dialek Palembang dengan menggunakan aksara Arab (Jawi).
Selain keempat karya yang sudah disebutkan di atas, terdapat karya-karya Azharî lainnya yang mengkaji pelbagai bidang ilmu keagamaan, yaitu; al-Awrâd al-Qâdiriyyah (1886), Irsyâd al-Ghulâm (1900), Taqwîm al-Qiyâm (1902), Hidâyah al-Rahmân (1906), Manâqib al-Syaikh Muhammad al-Sammân (1913), Qishshah al-Isrâ wa al-Mi’râj (1918), ‘Aqîdah al-Tauhîd (1924), Risâlah fî Mukhtâr al-Musammât, dan lain-lain.
Melihat daftar di atas, tampak jika karya-karya al-Azharî ditulis sepanjang rentang tahun 1886 sampai tahun 1924. Azharî wafat pada 16 Jumadil Akhir 1351 H (17 Oktober 1932 M).
Saat ini, beberapa karya Syaikh Muhammad Azharî tersimpan di perpustakaan pribadi milik DR. KH. Kemas Andi Syarifuddin Palembang. Dalam buku “Naskah-Naskah Palembang; Jati Diri yang Terlupakan” (Jakarta: Yanassa, 2004), disebutkan sosok DR. KH. Kemas Andi Syarifuddin sebagai salah seorang kolektor naskah-naskah kuno keislaman di Palembang. Beliau juga merupakan cucu dari Syaikh al-Qâdhî Umar al-Falambânî, mufti dan kadi terakhir Kesultanan Palembang.
Bogor, Desember 2016
A. Ginanjar Sya’ban

0 komentar:

Posting Komentar